Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2010

Maskam dalam Lembaran

Maskam begitu gagah hari ini. Seisi masjid masjid kampus milik UGM ini begitu di padati dengan jejalan orang. Semua berkumpul dengan niatan untuk membadah bukuku. Sesekali air mancur kolam didepan maskam memancurkan air. Mengguyur dengan selaras seperti penari yang menari dengan anggun. Membuat siluet senja terlihat begitu tegas tapi menyejukkan. Tiang-tiang besar penyangga maskam menjadi lokasi favorit untuk bermalas-malasan. Parkir yang biasanya cukup luas lumayan tepadati oleh kendaraan yang sengaja singgah untuk acara hari ini. Beberapa penjual buku berjajar rapi menggear dagangannya disepanjang selasar utara maskam.
Tepuk tangan bergemuruh di ruangan masjid ini. Semua hadirin yang mengikuti acara ini merasa begitu puas. Berdecak kagum. Aku melihat beberapa orang sibuk membersihkan air matanya. Suasana masjid benar- benar berbeda hari ini.
Hari ini aku mengisi acara bedah buku. Buku pertamaku. Buku yang berisi pengalamanku menemukan islam. Pengalaman yang menggambarkan metamormofosis diriku hingga menjadi seperti ini. Aku memang berubah total. Bagiku berubah menjadi sempurna.
Bebarapa panitia menghampiriku mengucapkan terima kasih. Mereka merasa acara yang mereka rancang tidak sia-sia. Aku membalas semua pujian mereka hanya dengan senyuman. Yah, memang apa lagi yang bisa ku berikan.
Sekarang seorang ibu menghampiriku. Dengan mata sembabnya dia mendekatiku. Kemudian mulai berbicara.
“ Terima kasih ustadz atas ceramahnya, saya benar-benar mendapat semangat baru sekaligus malu. Saya muslim dari lahir, tapi dalam mencaintai Allah, ustadz jauh lebih baik. Saya sungguh malu ustadz…” ibu itu berbicara sambil mengusap air matanya.
“ Ibu mohon maaf sebelumnya, jika harus berterima kasih. Maka berterima kasihlah kepada Allah. Dan saya bukan ustadz ibu, maaf saya belum pantas untuk mendapat gelar itu ibu. Saya masih belajar, sama seperti Ibu.”
”Dia yang mengatur semua ini. Ini hanya perjalanan kecil yang berhasil saya raih. Tapi mungkin sebenarnya karena Allah memang menginginkan semua ini terjadi. Masih banyak rahasia yang memang sengaja disimpanNya. Karena kejutan itu tak pernah menjadi kejutan ketika disampaikan di awal. Maka bersyukurlah atas keislaman ibu sejak ibu melihat dunia ini. Itu kenikmatan yang tak dapat ditukar dengan apapun. Dan nikmat itu baru saya rasakan sepuluh tahun ini.”
***
Seorang pemuda sibuk membuka buku barunya, bukuku. Sambil bersandar di tiang penyangga maskam. Dia mulai membaca buku itu.
***

 
Entah kenapa masjid itu menjadi tempat yang paling sejuk untuk berteduh bagiku. Berawal diajak oleh seorang teman muslimku. Aku jadi ketagihan menjadikan masjid sebagai tempat berteduh dari terik sinar matahari. Rasanya, di masjid sinar matahari tertahan oleh pelindung tak kasat mata. Sungguh sejuk dan menentramkan.
Aku memang non muslim, tapi dari dulu aku orang yang cukup toleran dengan agama lain. Mungkin karena aku bukan Kristen yang terlalu fanatik juga. Bagiku agama hanya warisan. Aku hanya melakukannya sebagai rutinitas tanpa makna.
Sudah seminggu ini aku menjadikan Maskam tempat favoritku. entah hanya untuk sekedar beristirahat siang atau untuk membaca buku.
Masjid menjadi tempat ibadah paling sering dikunjungi oleh umatnya. Aku membandingkan dengan berbagai agama lain. Muslim dalam sehari mendatangi masjid hingga lima kali. Minimal ketika mereka mau sholat. Itu yang kemudian membuatku semakin tertarik mempelajari islam.
Aku lalu menyediakan satu buku khusus yang kuisi dengan catatanku tentang islam berdasarkan semua hal yang akan ku temui di Maskam ini. Segala hal tentang islam.
Aku membuat ini sebagai kegiatan rahasiaku. Aku melakukannya setiap aku penat atau ketika memang aku ingin. Aku mencatat semua yang aku lihat tentang segala hal yang aku anggap menarik tentang islam. Aku akan mengobati rasa penasaranku akan agama ini. Bermula dari Maskam, aku akan memulai semuanya.
Aku menulis catatan ini dengan melepasakan kepercayaanku akan agama yang kupercayai sekarang, Kristen. Membuat sebisa mungkin agar catatan-catatanku ini lebih menjadi objektif. Aku merelakan apapun yang akan terjadi pada diriku kelak. Ini sudah konsekuensi akan sebuah rasa penasaranku. Rasa penasaran yang tiap hari kian dalam kurasakan. Kurasa, jika itu akan membuaku baik. Maka aku akan menjadi orang yang beruntung. Menjadi seseorang yang Beragama atas proses pencarianku sendiri. Bukan sekedar agama turun temurun dari orang tuaku.

                                                                                                                                                         ***

Aku hari ini diam – diam mengikuti kajian di maskam. Aku mendengarkan ceramah, namun berusaha sejauh mungkin. Namun tetap mencari tempat dimana aku bisa mendengarkannya. Lalu aku menemukan hal menarik lagi kali ini.
Hal yang menarik dari muslim adalah ketika agama mengajarkan untuk senantiasa menyebut nama tuhanNya. Dari kecil aku sudah terbiasa mendengar temanku berkata alhamdulillah atau astaghfirllah. Ternyata bukan hanya itu, masih banyak lagi ajaran yang islam tuntunkan kepada pemeluknya untuk senantisa menyebut nama TuhanNya.
Ketika seseorang jatuh, seseorang mengucapkan Astaghfirllah. Ketika seseorang sedang terkena musibah maka muslim mengatakan Inalillahiwa inalihllahi Roji’un. Ketika mendapatkan bahagia maka akan mengucapkan Alhamdulillah. Di setiap kesempatan mereka dituntut mengingat tuhanNya. Senang, sedih, kecewa mereka di minta untuk senantisa mengingatnya.
Bukan hanya itu, Islam juga selalu memeberi penekanan untuk senantisa membasahi lisannya dengan puji-pujian akan TuhanNya. Dan seolah tak ada proses kecil yang tidak dihargai dalam islam. Ketika menyuruh pengikutnya untuk mengerjakan sesuatu, maka akan di barengi dengan pedeskripsian akan imbalan atau hukuman sebagai balasan dari proses yang mereka lakukan.
Doa adalah komunikasi seorang hamba dengan TuhanNya. Luar biasa. Islam mengaturnya begitu lengkap, hampir tanpa satu kegiatan pun yang luput tanpa doa. Bahkan hendak ke kamar mandi saja seorang muslim dituntut untuk berdoa. Punya pakain baru juga demikian. Dengan itu semua. Sungguh bagaimana mereka tidak akan mencintai TuhanNya?
Dalam hatiku berdegup sesuatu yang aneh. Aku tak mampu mendeskripsikan perasaan ini. Apakah sekarang yang kurasakan hanya sebatas penasaran? Atau sudah berubah menjadi keyakinan? Aku tak paham. Aku diam-diam semakin kagum dengan ajaran ini. Meggeliat perasaan iri yang berkecamuk dan mengobrak-abrik isi otakku. Membolak-balik kepercayaan dan dogma-dogma yang selama ini aku terima. Semua ajaran yang aku terima selama ini seolah tak jauh lebih bagus ketimbang islam. Salahkah aku jika mengataka demikian?
Aku ketagihan…ya, semakin ketagihan.

                                                                             *** 

Masih dengan udara dan kesejukkan di maskam. Hari ini dengan kepenatanku aku mengungsi ke Maskam. Rasanya aneh, kenapa aku tidak pergi ke gereja saja? Kenapa malah ke Masjid? Ah, aku sungguh tak paham. Seolah ada seseuatu yang menggerakkan aku ke sini. Seolah aku akan mendapatkan ketrentaman disini. Maskam. Kali ini dengan sesuatu yang baru lagi yang aku dengar. Mungkin lebih tepatnya aku mneguping dari pembicaraan beberapa orang di sebelahku.
Seseorang yang terlihat paling senior mulai pembicaraan itu.
“ Kalian tau kenapa Muhamamad menjadi sebuah teladan buat kita?”
Beberapa orang yang sepertinya adalah adik angkatan dari sang penanya, memberikan jawabannnya masing-masing.
“ jawaban kalian semua benar. Yah seperti itulah Muhammad. Dia bisa memenuhi semua kriteria yang ada untuk menjadi seorang teladan. Dia seorang yang penuh akan kebaikan. Lisannya dijaga Allah dari perkataan dusta. Dia adalah sahabat yang baik bagi sahabat-sahabatnya. Dia membuat semua sahabat seolah menjadi orang paling di cintainya. Dia juga pemimpin yang selalu peduli dengan semua golongan. Menjadikannya sebagai sosok yang adil dalam segala urusan. Dia menjadi suami yang penuh perhatian terhadap istri-istrinya. Bagaimana Muhammad begitu memanjakkan istri-istrinya. Dia seorang ayah penuh kebijaksanaan. Seorang kakek yang tak pernah terganggu dengan kenakalan cucunya yang selalu menggagunya ketika menjadi imam sholat. Tak pernah memaki, justru menggendong mereka dalam sholatnya. Seorang politikus yang bersih. Seorang pembelajar yang tak pernah lelah. Sungguh jika saya harus menguraikan lagi. Rasanya waktu tak akan pernah memeberikanku izin. Satu kata untuk mewakili semuanya adalah LUAR BIASA”. Pria yang senior itu merangkum semua jawaban dan menambahkan jawaban pribadinya.
Sungguh demikian hebatkah Muhammad? Seagung itukah kepridaiannya?
Aku memutuskan untuk membeli beberapa buku di selasar maskam. Buku-buku tentang Muhammad. Aku ingin mencoba mengenalnya lebih dalam. Aku tipe orang yang belum percaya dan puas sebelu
m aku menemukannya sendiri.
Aku akan mengenalmu Muhammad.

*** 

Ketika aku melihat wanita berjilbab aku sedikit bingung. Kenapa mereka harus menggunakan itu. bukankah itu cuma akan membuat mereka gerah. Apalagi kalau disiang bolong. Apalagi aku melihat bebarapa wanita menggunakan jilbab yang menjuntai begitu panjang. Apakah mereka tidak pernah merasa kepanasan?
Aku memberanikan diri bertanya kepada salah seorang penjual buku di selasar maskam yang juga berjilbab. Dan ibu itu menjawab pertanyaanku dengan sangat memuaskan. Aku memulai dengan berbasa-basi, kemudian mengarahkan pembicaraan ke arah yang kuinginkan. Tentang jilbab. Ku balut pertanyaanku serapi mungkin dan semangalir mungkin.
“Wah ya gerah mas. Tapi mas, saya jauh merasa lebih nyaman kalau menggunakan jilbab ini mas. Saya merasa saya benar-benar wanita. Kalau laki-laki itu tugasnya untuk melindungi. Nah kalau wanita itu dilindungi mas. Dan menurut Al Qur’an. Bahwa wanita itu harus melindungi dirinya sendiri dengan menggunakan jilbab. Biar tak pernah ada lelaki yang akan menggoda. Kan laki-laki bisa jadi buas kalau lihat wanita seksi. Kalau pakai jilbabkan saya gak kelihatan seksi mas. Hahahaha…”
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban ibu itu. penjelasan yang sederhana namun bisa begitu logis. Aku terdiam sejenak. Seorang ibu di sebelah ku yang sejak tadi sibuk memilih buku ternyata juga memperhatikan percakapan kami. Dia juga ikut menjawab pertanyaanku tadi. Dari kepribadiannya, ibu itu terlihat sebagai sosok yang supel.
“ Wah saya boleh ikut menjawab mas?”
Aku mengiyakan.
“ Dulu saya model mas. Saya rajin banget fashion show dengan busana yang minim. Entah kalau bukan bagian atas, ya bagian bawahnya yang terbuka lebar. Dan bodohnya saya merasa tak malu dengan itu semua. Saya seolah merasa menjadi wanita yang sempurna. Seksi. Padahal yang melihat saya bukan hanya wanita mas tapi juga pria. Sampai saya menikah dengan suami saya. Sejak saat itu saya berubah menjadi wanita berjilbab seperti sekarang. Perubahan luar biasa yang saya rasakan adalah saya jadi begitu nyaman jalan kemanapun mas. Tak perlu was-was, sadar atau tidak wanita berjilbab itu lebih dihargai daripada wanita yang gak berjilbab. bener kata ibu tadi mas, laki – laki itu doyannya yang mini-mini.”
*** 
“Geovanny” seorang memanggil pemuda yang bersandar di tiang itu. Dia membuyarkan keasyikan pemuda yang sejak tadi tengah membaca buku.
“ Eh kemana saja lo, gue udah nunggu disini lama banget. Untung tadi gue punya buku ini. Lumayan mengisi kebosanan gue lah.”
“ Emang ceritannya tentang apa?”
” Isinya tentang muallaf yang menemukan keislamannya di Maskam ini. Di membuat lembaran-lembaran cerita tentang segala hal yang dia observasi di maskam ini. Buku ini di beberapa bagian membuat gue begitu malu. Menyindir gue. Bagaimana seorang penganut Kristen bisa memaknai islam lebih bagus ketimbang gue. Kerenlah pokoknya. Lo wajib baca.”
“ Boleh lah, ntar gue pinjem lo.”
“ Pinjem? Enak aja lo. Beli sono. Sudah ayo kita berangkat!”
***


Maskam dalam Lembaran
Rumcay , 22 April 2010
Last editing 29 April 2010
03:31
Wisnu Frian

3 Sketsa Palestina

Jepret…Jepret…Jepret! dari kejauhan terlihat seorang wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris berdiri mematung.

***

Segerombolan tentara Israel bertubuh tegap, senjata lengkap, berbaju militer warna hijau menyusuri jalan. Melakukan patroli rutin. Mengacungkan senjata dengan siaga. Tentara-tentara Israel itu masih muda. Usianya mungkin antara 23 sampai 30an tahun. 

Dari arah tak terduga. Sebuah batu melesat cepat mengarah ke arah mereka. Batu yang cukup besar itu mengenai kaki salah seorang tentara yang membuatnya terluka lumayan parah. Membuatnya merintih kesakitan. Darah membasahi celana yang dikenakannya. Tentara itu mengaduh kesakitan. Beberapa tentara yang lain membantunya.

“Kejar pemuda-pemuda itu!” Perintah seorang tentara yang sepertinya adalah komandan dari semua tentara itu.

            Derap langkah pemuda Palestina yang berhasil melempar batu kearah tentara tadi begitu menggema di sudut jalan yang sangat lengang. Pemuda – pemuda Palestine yang melempar batu tadi terus berlari menyelamatkan diri dari kejaran tentara Israel. Nafas mereka terengah – engah. Lawan yang tak sebanding. Tentara Israel mengejar dengan mobil. Bukan hanya itu bahkan tentara Israel menggunakan tank untuk mengejar pemuda-pemuda itu.

            Pemuda – pemuda itu gesit melarikan diri. Mereka adalah pemilik syah tanah ini, negeri ini. Bukan sekedar klaim semata. Bukan berdasarkan pengambilan paksa dari sang punya rumah. Jadi wajar mereka tau tempat – tempat yang tersembunyi.

            Seorang pemuda tak berhasil melarikan diri. Tentara Israel segera menangkapnya. Menyeretnya dengan paksa.

“Kurang ajar kau. Kau pikir batu itu akan menang melawan kami? Hahaha”. Tentara yang menangkap pemuda itu tertawa terbahak-bahak  menertawai kemenangan mereka.

            Pemuda itu dipukul dengan senjata yang dipegang para tentara. Bukan hanya satu orang, tapi dikeroyok. Ditendang. Mereka saling bergantian. Menjadikan pemuda tadi berlumuran darah, tubuhnya melemas. Tak berdaya. Penglihatannya sudah tak jelas lagi.

Batu – batu dari kejauhan terlempar cukup tepat ke arah para tentara secara  mendadak. Beberapa batu berhasil mengenai para tentara. Batu- batu  lebih banyak dari lemparan pertama. Lemparan batu lagi, lagi dan lagi.

“Sial, mati saja kalian.” Kemarahan para tentara itu semakin membabi buta. Mereka menembakkan senjata mereka dengan brutal. Ke sana , kemari.

            Beberapa pemuda terkapar tak berdaya. Peluru – peluru tentara jahanam itu menembus daging mereka. Mengenai beberapa bagian tubuh mereka. Kulit putih mereka sudah mulai tercemar dengan warna hitam pekat. Bau amis tercium jelas di sekitar jalan itu. hanya sebentar, bau amis itu segera berganti dengan bau wangi yang menyerbak.

            Beberapa ibu yang menggendong anaknya melihat kejadian itu ikut bereaksi. ibu –ibu itu menggeram. Mungkin mereka adalah janda yang sudah lelah menahan sakitnya kehilangan suaminya. Atau mereka ibu yang sudah terlalu murka setelah melihat sendiri anaknya mati di depanya, di tangan para tentara yang bagi para ibu-ibu itu sudah berwajah mirip kera. Kera!Kera!Kera!

Para Ibu itu mengikat gendongan anaknya lebih erat. meengambil batu terdekat di yang sanggup dijangkau. Melemparnya dengan kuat. Berjuang besama saudara-saudara mereka. Melempari tentara-tentara biadab yang hanya mampu bersembunyi dibalik senjata – senajata buas itu.

Melihat itu semua tentara Israel semakin marah. Darahnya memanas. Mereka seperti sedang dipermainkan oleh penduduk yang lemah itu. Penduduk yang hanya bisa menggunakan batu untuk melawan. Tua-muda, bahkan anak-anak, pria-wanita melempari mereka.

Darah merah semakin mengalir di jalan itu karena kebrutalan tembakan dari tentara Israel. Kemarahan sudah membunuh jiwa manusia tentara Israel. Tentara Israel sudah menjadi Iblis berfisik manusia.

Itu sama sekali tak menciutkan nyali penduduk palestina. Mereka bertakbir dengan berteriak. Terus dan terus melempar tentara Israel.

“Allahuakbar!”

“Allahuakbar!”
“Allahukabar!”

“Allahuakbar!”

            Takbir itu berlomba dengan suara tembakan yang merajarela kesegala arah. Seorang tentara menyeret seorang ibu dan anaknya. Menarik jilbabnya hingga terlepas. Hingga rambutnya terurai. Wanita itu masih menggendong erat bayinya. Memengang punggunya. Menenangkan bayinya yang menangis keras. Mulutnya hanya sanggup Terus bertakbir.

“Sini kau perempuan kurang ajar.”

            Bayi yang digendong ibu itu dirampas dari tangannya dengan paksa. Diletakan di tanah oleh tentara itu. Tanpa basa-basi bayi itu ditembak tepat di dadanya. Di jantungnya. Suara tangis bayi itu menghilang ditelan dentuman peluru itu. Bayi itu syahid.

“Laknatullah kalian, biadab kalian.” Wanita itu mengamuk dengan sisa tenaganya. Dengan luka yang didera tubuhnya. Wanita itu memeluk banyinya. Erat. Erat sekali. Darah anak itu membasahi tangan wanita itu. Wanita itu kehilangan anaknya. Mungkin anak kesekiannya. Di depan matanya.

            Tentara itu tertawa. Menertawakan wanita itu. Wajahnya masih belum menandakan rasa kepuasan. Wanita itu kembali diseretnya. Tentara itu hendak memuaskan nafsu birahinya dengan wanita yang sudah sangat sakit secara fisik maupun hatinya itu.

“Cuh!” wanita itu meludahi tentara itu.

“Kurang ajar…Plakkk”! Tentara itu melepaskan pukulan ke arah wanita itu.

            Dalam keadaan lemah, wanita itu masih terus berusaha melawan kebiadaban tentara yang hendak menjadikannya budak untuk nafsunya. Hanya kelemahan dan tak keberdayaan. Bosan dengan nafsu birahinya, tentara itu menembak wanita tadi.  Tepat di tengah batok kepalanya.

            Beberapa menit setelah itu semua mayat yang sudah terbunuh di lemparkan menjadi santapan anjing-anjing buas mereka. Termasuk bayi dan ibunya tadi. Anjing itu memakan semua daging dari mayat itu dengan lahap. Merobek daging dari kulit mayatnya. Mengunyah tulang-tulang. Gigi anjing itu sudah merah pekat, amis dan berlumuran mencampuri ludah dan lidahnya. Anjing –anjing akan merasa kenyang untuk bebarapa hari.

“ Hahaha…” Suara tawa setan dengan kepuasan yang bagi mereka sempurana.

“Jepret…Jepret…Jepret!”

***

            Dokter-dokter yang merupakan relawan itu kualahan menangani ibu-ibu yang berteriak keras. Jas putih panjang mereka gunakan basah oleh keringat. Seorang wanita dari kamar sebelah meronta dengan keras. Suara kamar sebelahnya juga tak mau kalah. Suara rintihan kesakitan itu saling bersahutan diantara bilik rumah sakit yang seadanya itu.

            Rumah sakit yang temboknya sudah banyak retak bahkan sudah terhiasi lubang besar. Bom – bom dari peasawat, tank maupun roket yang dilancarkan tentara Israel yang membuatnya seperti itu. Merubuhkan banyak sekali rumah sakit. Mungkin ini jadi salah satu rumah sakit yang masih sanggup bertahan dengan keadaan seadanya. Obat-obat yang seadanya. Semua karena  bantuan sering tak tersampaikan dengan baik. Tentara Israel menahan semuanya logistik yang dikirim. Tak membiarkan bantuan dari masyarakat dunia sampai pada tangan yang tepat.

            Wanita yang hendak melahirkan itu menarik nafas dengan kuat. Memegang kasur tempatnya berbaring. Dalam kesendirian. Banyak wanita Palestine dalam kesendirian karena ditinggal pergi oleh suaminya justru dalam keadaan seperti ini.

Keadaan mereka akan menciptakan kebahagian baru di negeri terjajah ini. Palestina!

Dengan kondisi perawatan yang seadanya. Dokter berjilab biru asal turki itu hanya sanggup menguatkan, menyuruh sang wanita itu berdzikir.  Dokter itu memegang penuh kasih tangan ibu itu.

“Tarik nafas, keluarkan. Ibu pasti kuat. Berjuanglah ibu untuk mujahid baru. Sebentar lagi mujahi itu akan lahir.”

            Masih merintih kesakitan. Waktu berlalu dengan cepat. Tanda-tanda kelahiran memang semakin terlihat. Kepala bayi itu sudah keluar.

“Ayo Ibu bayinya sudah keluar. Sedikit lagi. Ayo bu!”

“Oek..oek…oek!” Bayi itu menangis. Bayi itu lahir dengan sehat. Bayi itu menangis dengan keras. Seoalah tangisan yang menggema membuat pertanda mereka siap untuk menggantikan para syahid yang sudah tersenyum manis di surga.

“Suster ibu ini mengandung anak kembar.”

            Dokter dan suster itu mulai menangani sama seperti tadi. Menyuruh Ibu tadi mengatur nafas dalam keadaan lemahnya. Sang suster membantu ibu tadi menarik nafas dan bersiap menarik bayinya. Dibawah selimut warna putih. Sang dokter masih menjadi motivator dengan punih perhatian kepada ibu itu. Bayi itu telah lahir.

“Oek…Oek…Oek.” Suara tangisnya menggema. Suara tangis yang sama kerasnya dengan bayi pertama yang hanya berselisih delapan menit. Sama, bayi itu juga seolah sudah meniupkan sangkakala perang.

“Oek…Oek…Oek.” Bayi dari ruang sebelah juga menyahut kelahiran bayi kembar tadi.

“Oek…Oek…Oek.” Bayi dari ruang ujung juga menyahut lagi. Tangisan kelahiran lagi.

“Oek…Oek…Oek.” Ini adalah tangisan bayi yang ke sepuluh dihari ini. Tapi masih ada dua ibu lagi yang menurut prediksi akan lahir hari ini.

            Dalam kelelahan bercampur kepuasan dokter-dokter itu. Merasa sungguh sangat heran sekaligus bersyukur. Meraka menjadi ikut berharap dengan kelahiran bayi-bayi itu. Seolah angka kematian yang tak tereda ini terus berganti dengan kelahiran yang dua kali lipat dibanding dengan negara manapun. Ibu – ibu palestina memproduksi anak dengan cepat.

Jepret…Jepret…Jepret!

***

            Sekian juta lembarang uang dollar AS di sisihkan khusus oleh pemirintah Israel. Entah apa yang mereka pikirkan. Uang itu dalam jumlah yang tak sedikit. Anggaran Israel membengkak dengan pengeluaran ini. Ya, jutaan dolar. Mereka sedang menyiapkan sebuah proyek besar. Bukan untuk memenuhi kecanggihan senjata mereka. Pesawat tempur , tank sampai rudal mereka  sudah punya yang tercanggih dan paling mematikan di dunia dengan anggaran tersendiri, bukan dari anggaran ini. Berbeda.

            Beberapa warga yang dibayar khusus oleh pemerintah sedang berjuang dalam panas. Menggunakan semua teknologi dalam mengolah lahan yang sangat luas. Pria-pria tambun tengah asik beristirahat di bawah rumah-rumah dekat lahan itu. Sedangkan sebagain pria yang lain masih tengah sibuk mengendarai traktor.

“Untuk apa semua ini?” Tanya wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu.

“Ini untuk reboisasi nona.”

“Ini pohon apa tuan?

“Ini pohon gorgot.”

            Lalu wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu kembali dengan kesibukannya lagi. Menggunakan kameranya dan menulis semua informasi penting. wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu hanya tersenyum. Merasa menemukan fakta yang selama ini menggelitiknya. Fakta yang sering di dengarnya dari rekan-rekan muslimnya dikantor. Rekan paling banyak di Islamic Jarusalem Studies, Skotland. Kantornya.

“Bangsa yahudi sudah menyiapkan diri untuk kiamat. Mereka ketakutan. Maknya mereka menanam sebanyak mungkin pohon gorgot. Jutaan dollar mereka keluarkan untuk proyek ini.”

“Pohon gorgot?” Dengan nada penasaran.

“Iya pohon kaum yahudi, pohon yang akan melindungi mereka saat kiamat. Semua pohon dan batu di waktu kiamat akan memberitahu keberadaan kaum yahudi pada kaum muslim. Kecuali satu pohon yang akan diam, Pohon Gorgot.”

Jepret…Jepret…Jepret!

***

“Yahudi, muslim dan Agamku saat ini, Kristen. Aku semakin tau mana yang sesungguhnya benar dan membuatku nyaman.” wanita berambut pirang berkebangsaan Inggris itu diam sejenak.

“Agama yang hanya  mengakui satu Tuhan.” Gumamnya dalam hati.

Selepas duka dan Alone forever.

Selasa, Juni 08062010

19.30

 

REUNI BOCAH RUMAH POHON

Sebuah pesan masuk ke dalam Facebook-ku

Masih ingatkah kau akan gubug kita? Ayo kita kembali merasakannya lagi. Kami menunggumu sobat, tanggal 16 februari 2005, jam 16.30 WIB ya!

Nb: Jangan menggunakan mobil atau kendaraan apapaun. Berjalan kakilah menuju SD kita sobat!

            Dari nama yang sudah lama terlupa dari otakku. Sukro. Sahabat lamaku. Bagiamana bisa? Ah bodohnya aku, sekarang sudah tidak susah untuk mencari sahabat-sahabat lama kita dengan Facebook. Aku pun menjawab pesan itu.

Pasti sobat!!

***

            Hari ini tiba. Hari yang sudah sangat kutunggu, bertemu dengan mereka yang melukis indah kenangan di hatiku. Sahabat-sahabatku sejak kecil. Sekarang aku berada di desa tempat kelahiranku. Aku telah lama meninggalkannya. Banyak hal yang berubah, tapi tak sepenuhnya merubah semua keadaan. Aku masih merasakan aroma hijau daun yang segar, udara dengan sedikit polusi, sawah yang meghampar luas, dan sekolah kecilku yang sekarang sudah semakin merenta.

            Sekolah SD ku adalah sekolah yang konon sudah berumur 100 tahun lebih. Sangat tua. Walaupun saat ini aku melihat secara fisik sudah sangat berbeda. Sudah tampak jauh lebih baik daripada 30 tahun yang lalu, saat aku masih sekolah di sini. Temboknya sudah bukan lagi tembok anyaman bambu, tapi sudah jadi tembok dari batu bata dengan graffiti yang menghiasinya.

            Canda tawa masih tertancap nyata di otakku. Hampir semuanya masih kuingat. Setiap jengkal sudut. Setiap peristiwa seolah memutar otakku untuk mengulangi semua kejadian penuh kenangan di masa lalu. Terlintas begitu cepat.

“Kemana mereka? aku sudah menunggu lama disini.”

“Apakah mereka membohongiku?” aku semakin menggerutu.

Aku berkelilingi sekolahan itu. Menuju arah barat sekolahanku. Menyusuri kelas per kelas. Aku benar-benar reuni dengan masa laluku.

“ Aku meridukan kalian. Sangat! ” aku tersenyum kecil.

***

            Dari kelas satu hingga kelas 5 semuanya kosong. Harapanku tinggal satu lagi. Kelas 6. Aku mempercepat langkahku menuju kelas 6. Aku berkeliling ke semua bagian kelas. Aku memukan secarik kertas tertempel di papan tulis. Aku mendekatinya.

“ Berjalanlah menuju tempat dimana kau merindukan kami.”

“ Mereka…tak pernah berubah!” gumamku.

***

            Di tengah sawah yang segalanya terhiasi warna hijau padi. Dari kejauhan seperti barisan prajurit yang berbaris rapi. Beberapa padi terserang hama dan bekas lukanya terlihat. Entah bernbentuk lubang atau daunnya berubah kuning. Sawah sedang sepi karena disiang hari petan akan meninggalkan sawahnya untuk beristirahat. Sejenak meluruskan persendian yang telah bekerja dengan berat.

            Aku dan temanku berkumpul seperti biasa. Di sebuah gubug di tengah-tengah sawah. Gubug yang tak terlalu yang begitu. Atapnya adalah anyaman daun kelapa yang sudah mengering, warnanya sudah berubah coklat. Tiang penyangganya terbuat dari empat bambu dengan ukuran diameter yang cukup besar. Sedangkan alasnya adalah kayu.

“Cah, nek awake dewe uwes gedhe arep dadi opo ya? Iseh podo ileng gak ya? Iseh koyok ngene gak ya?1 Sukro memulai pembicaraan siang itu.

            Sukro bisa dibilang adalah ketua kami. Dia orang yang hobinya menyuruh ini dan itu. Sukanya mengatur agar begini dan begitu. Dibalik itu semua, dia orang yang selalu melindungi kami dari semua kejahilan teman-teman kami. Tubuhnya yang besar membuat dirinya cukup ditakuti.

            Lana dan Lani masih sibuk dengan dakonnya. Mereka berdua adalah si kembar yang sangat kompak. Kemanapun selalu bersama. Selalu menggunakan pakaian yang sama. Potongan rambut yang sama. Satu persamaan lagi yang mereka miliki, Pelit.

            Sedangkan aku selalu berdekatan dengan mbak Sumi. mbak sumi adalah seorang penderita lumpuh. Tapi semangatnya yang luar biasa itu yang membuat kami selalu mengajaknya. Kami bergantian menjemput dan menggendongnya. Untungnya saja rumah mbak sumi cukup dekat dengan rumah gubug ini. mbak sumi adalah motivator bagi kami. Usianya paling dewasa. Dia mengajari kami banyak hal.

Mbak sumi tak pernah bisa sekolah. Alasannya adalah orang tuanya tak mampu untuk menyekolahkannya. Apalagi dengan kondisinya seperti itu. Tapi semangatnya untuk belajar membuat kami betah bersama dengan mbak sumi. mbak sumi adalah pembaca segala macam buku. Kami rajin membawakannya. Setelah membacanya mbak sumi memndongenkannya kepada kami. Pokoknya kalau mbak sumi sudah mendongeng maka itu saat kami akan terdiam dan menyelami dunia lain. Mbak sumi selalu mengajak kami menjadi terlibat ceritanya.

Satu lagi yang menjadi anggota geng ini. Namanya Bara, kacamata tebalnya adalah kelemahannya. Kacamatanya adalah sumber kejahilan bagi kami. Bara memang tak akan pernah bisa hidup tanpa kacamatannya. Dia tak akan bisa melihat. Bara adalah kutu buku sejati, dia pemasok buku bagi mbak sumi. Bara bukan orang yang pandai berbicara. Dia pendiam. Tapi bara adalah orang yang penuh kejutan. Selalu membuat penelitian sederhana yang mebuat kami dibuatnya terkesima.

Semua tak ada yang merespon. Mbak sumi tau kalau sukro sedikit tersinggung dengan keadaan dimana dia dicuekan. Maka mbak sumi mengawali untuk menjawab berkomentar.

“Aku cuma pengen dadi penulis kro. Kowe lak ngerti aku cuma iso nulis. Aku gak mungkin dadi wong gedhe. Gak mungkin dadi guru. Yo jelas bakal ileng terus lah kro. Nek iseh iso koyok ngono opo ora? Mbak gak iso jawab. Soale nek kowe – kowe podho sukses opo iseh gelem kenal karo aku?”2

“ Yo tetep mau lah mbak.” Kami serentak menjawab.

***

            Aku berjalan menyusuri sawah.  Jalannya masih basah diguyur hujan. tanahnya terasa begitu lembek. Aku cukup kesulitan melewatinya. Bukan mudah untukku yang sekarang. Aku melepas sepatuku. Melipat celanaku hingga di bawah lutut. Tangan kananku memengang sebuah tongkat yang kuambil dari pohon di jalan. Tangan kiriku memegang sepatuku.

            Menyusuri galengan yang memisahkan sawah satu dengan sawah yang lain. Aku berjalan pelan dan berhati-hati. Keringatku menetes lumayan deras. Aku sudah tak terbiasa berjalan kaki sejauh ini. Segala fasilitas yang kumiliki membuatku termanjakan. Malam segera tiba.

            Tiba- tiba aku dikejutkan dengan selembar kertas lagi. Aku mengambilnya dan membaca isinya.

“ Kau cengeng sekali. Kau kehilangan setengah mati saat ditinggal kekasihmu!”

“ Maksudnya?” Aku tak paham.

***

            Ketika kami sudah beranjak dewasa. Kami masih saja menjadikan gubug tua ini sebagai tempat kami melepaskan lelah setelah sekolah. Kami semua sudah menginjak bangku SMA. Sudah banyak kejadian yang terjadi.

            Hari ini adalah hari ke-40 meninggalnya mbak sumi. Mbak sumi sudah bergelut dengan penyakitnya sudah hampir satu tahun. Dia terus berjuang. Kami sering bergantian menjenguknya. Sekedar membawakanya buku. Atau mengajaknya bercanda. Kondisi mbak sumi sudah tak memungkinnya untuk keluar dari rumah. Itu tak membuatnya berhenti untuk mendongeng kepada kami.  Mbak sumi berubah menjadi ibu kedua bagi kami.

            Dari semua temanku, aku bisa di bilang paling dekat dengan mbak sumi. Aku paling rajin membersamai mbak sumi. Mengajak mbak sumi bermain. Mengerjakan PR bersama mbak sumi. Sampai sebagai pacarnya mbak sumi. Mungkin tak terlalu salah juga. Hampir setiap hari aku memang datang kerumah mbak sumi. seperti sepasang kekasih yang saling mengunjungi.

 “ Purwo???” Teriakan banyak orang mencariku.

            Aku masih saja diam. Aku tetap posisiku bersembunyi di dalam hamparan jagung. Berada ditengah-tengah dan menyembunyikan diriku. Hanya menangis. Pura-pura tuli. Menafikkan bahwa aku sedang dicari semua orang.

            Aku masih tak bisa menerima kepergian mbak sumi. Aku masih terasa terkejut. Aku membenci keadaan ini. Aku masih ingin merasa selalu bersama mbak sumi.

“Kenapa mbak sumi yang harus mati? “

“Bukankah banyak orang diluar sana? “

“Bukankah masih banyak orang yang lebih pantas mati. Mbak sumi masih terlalu muda untuk mati.”

            Aku menangis lama. Merasakan alam ini semakin sepi. Tenggelam dalam kesedirian. Semua terasa menjahuiku. Mataku berkunang-kunang. Aku tak bisa melihat jelas lagi. Semua abu-abu. Tubuhku melemas. Kakiku gemetaran. Aku sudah mati rasa.

            Semua berubah gelap.

***

            Aku tersenyum. Wajahku memerah ketika mengingat masa itu. Aku terlihat begitu kolot. Sosok mbak sumi sudah mebuatku tergila-gila. Kepergian mbak sumi meberikan dampak luar biasa bagiku. Aku melanjutkan langkahku. Tempat gubuk itu sudah begitu dekat. Langit sudah menjadi gelap. Aku mepercepat langkahku.

            Aku sudah begitu dekat dengan gubuk tua yang sudah semakin reot termakan usia. Aku melihat mereka semua. Aku berlari sesegera menghampiri mereka.

“ Kowe sui tenan pur. Uwes leleh ngenteni kowe sui.3” Sukro seperti biasanya selalu sok galak.

“ Yo maaf. Salah kowe kabeh  juga, leren gawe teka-teki. Aneh-aneh. Ki mesti idene bara.4

            Semua tertawa terbahak-bahak. Bara masih seperti dulu.

***

            Lana dan Lani berubah menjadi sosok wanita dewasa. Lana menjadi seorang wirausaha di bidang kuliner. Sedangkan Lani menjadi seorang ibu rumah tangga. Lani terlihat lebih gemuk. Perbedaan antara mereka menjadi terlihat lebih tajam sekarang. Lana lebih terlihat seperti wanita metropolitan. Tuntutan profesi sebgai pengusaha merubahnya demikian. Wajahnya segar dengan riasan kosmetik. Wajahnya terlihat seperti bukan pengusaha pada umumnya.

            Sukro terlihat jauh berbeda. Sukro berpenampilan elegan. Wajahnya terlihat sangat berwibawa. Gerak tubuhnya menegaskan karakter seorang pemimpin. Tubuhnya berubah tambun. Cara dia berbicara menunjukkan kelasnya sebagai seorang pejabat. Dia sangat berkelas.

            Bara. Dia terlihat seperti bayanganku. Tubuhnya semakin kurus. Bajunya kedodoran. Kacamatanya semakin tebal. Rambutnya memutih terlalu cepat. Sedikit botak. Dia sudah mencicipi indahnya dunia. Dengan profesinya sebagai peneliti biologi di spesialisasi entimologi membuatnya dengan mudah berkeliling dunia. Dia masih saja sangat cool.

“ Andaikan mbak sumi masih ada ya.

“ Sukro.” Lana merasa pembicaraan tentang mbak sumi akan membuat suasana berubah. Apalagi untukku.

“ Iyo kamu benar.” Aku menjawabnya dengan sedikit sendu.

“ Yoweslah, seng uwes yo uwes. Gak bakalan iso balek maneh. Saiki ayo mangan panganan seng wes tak gowo. Kowe kabeh lak bakal seneng. Lele goreng karo sambel terasi.5 Lani mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ Aku yo gowo panganan ki. Mosok Cuma Lani seng gowo6.”

“ Sip!” Aku bersorak.

***

            Ini hari dimana kami akan berpisah. Sudah lulus dari SMA. Kami semua punya cita-cita masing-masing. Aku sudah di terima di institut teknik terbaik di negeri ini. Lana diterima di universitas negeri di jawa timur jurusan management. Sedangkan lani memilih untuk tidak melanjutkan sekolah. Dia memutuskan untuk menunggu pangerannya datang di desa ini.Sukro diterima di universitas di Jogja. sedangkan bara mendapat beasiswa ke jepang. Sesuai dengan keinginannya. Ini semua karena perjuangan berat yang kami lakukan. Kami bisa meraih semuanya.

“Ojo sampai lali ya cah. Sok nek wes podo sukses ojo sampe lali karo gubuk iki.” hening tak ada yang menjawab.

“ Iyo, iyo.” Sukro menjawab ketus, penuh keraguan.

            Semua tak pernah tau masa depan. Akankah masa depan masih mengizinkan untuk bisa berkumpul lagi seperti ini dan di tempat ini.

“ Eh deloke kae8!” Bara memotong pembicaraan.

            Beberapa kunang-kunang terbang dengan nyala warna kuning yang berpadu dengan warna gelap malam. Kontras namun terlihat indah. Terbang berputar-putar. Mengitari sawah hijau ini. sebagian hinggap di daun. Sebagian lagi terbang pergi. Sebagian lagi mendekati kami. Bara menangkap bebarapa kunang-kunang itu.

“Bagus banget.”

            Kunang-kunang itu menutup malam itu dengan seuatu yang indah. Kenangan yang tak akan pernah terlupa.

***

wah masakanmu enak tenan. Wareg tenan9.” sukro begitu puas dengan makanan yang dibawa lana dan lani.

sek yo, aku arep jumok barangku neng tasku10”. Bara melangkah mengambil tasnya yang berada di sebelah kanan gubug. Tasnya berbetuk kotak  persegi.

            Bara membuka kotaknya dan keluar kunang-kunang yang beterbangan. Sebagai ahli entimologi, mengumpulkan kunang-kuang memang bukan perkara sulit. Walaupun di tahun seperti sekarang tak mudah juga untuk bisa menemukan kunang-kunang.

            Kunang-kunang itu terbang meliuk-liuk. Berada lama di kotak membuat mereka begitu keasyikan merasakan kembali di dunia asli mereka. Di alam. Warna kuningnya berpendar sempurna. Membut kami semua merasa seperti merasakan masa lalu. De javu. Aku menangis. aku melihat lana dan lani juga menangis. Sukro memang masih seperti dulu tak pernah mau menangis di depan orang. Bara melepaskan kacamatanya karena kacamatanya berubah sembab.

            Sungguh sekali lagi kunang-kunang itu menutup malam itu dengan seuatu yang indah. Kenangan yang tak akan pernah terlupa.

 Mbak sumi aku merindukanmu.


 

teman, kalau kita sudah besar mau jadi apa ya? Masih saling mengingat gak ? masih bisa seperti ini tidak?1

Aku cuma ingin jadi penulis kro. Kamu kan tau aku cuma bisa nulis. Aku gak mungkin jadi orang besar. Gak mungkin jadi guru. Yo jelas bakal ingat terus lah kro. Kalau masih bisa seperti ini atau tidak?Mbak gak bisa jawab. Soalnya kalau kalian semua sukses apa masih mau kenal denganku?2

“ kamu lama banget pur. sudah leleh nunggu kamu.3

Ya maaf. Salah kalian semua juga,biki teka-teki segala. Aneh-aneh. Ki pasti idenya bara.4

Yasudahlah, yang sudah ya sudah. Gak bakalan bisa kembali lagi. Sekarang makan yang tak bawa. Kamu semua pasti seneng. Lele goreng dan sembal terasi.5

Aku juga bawa makan. Masak Cuma lani yan bawa6.

jangan sampai lupa ya kawan.jangan sampai lupa dengan gubuk ini7

 Eh lihat itu8!

wah masakanmu enak banget. Kenyang banget9

sebentar ya, aku mau ngambil barangku ditasku10

 

           

 

Sabtu, 13 Februari 2010

Masa Lalu


Perpustakaan UGM, Desember 2150
Setelah memarkir sun racer ku di tempat parkir. Di sebelah kanan perpustakaan. Aku mengaktifkan tombol on pada belakang sun racer kepunyaanku. Agar kendaraan itu mengumpulkan energi matahari yang akan disimpan menjadi sebuah energi untuk menggerakan sun racerku kembali. Kau taulah di zamanku sekarang. Mana mungkin kami bisa menikmati adegan dimana kami mengantri untuk mendapatkan bahan bakar seperti di zaman kalian. Hal seperti itu sudah ikut punah mengiringi laju perubahan dunia ini juga. Selaras. Namun sebenarnya sudah menjadi prediksi yang mudah.
Di depan pintu perpustakaan. Aku menunggu sejenak. Membiarkan alat dectetor menganalisa ID card ku.
“ Derka. Fakultas Sejarah. Sejarah Bumi. 61751872 64906249.” Kemudian pintu itu terbuka. Mempersilahkan ku masuk.
***
Sampai di selasar aku menonaktifkan tombol off pada jam tanganku. Yang secara otomatis akan mematikan selubung pelindung di seluruh tubuhku. Di zaman kami, kalau tak ingin mati konyol karena mati terpanggang panasnya matahari. Maka alat ini menjadi alat yang wajib dikenakan. Maklumlah orang –orang dizaman kalian menebang pohon tanpa peduli akan akibatnya. Yang membuat akhirnya bumi mulai beraksi. Marah. Balas dendam kalau versiku. Laipson ozon di ijinkan untuk menjadi sangat tipis. Hingga hanya tinggal beberapa makhluk hidup yang sanggup hidup. Manusia salah satunya makhluk itu. Manusia masih mampu bertahan hanya karena kecerdasanya. Dia membuat alat ini untuk menangkal kondisi menyulitkan ini. sebagai contoh dari kecerdasan itu.
Aku menghampiri petugas administrasi yang menyambutku dengan seulas senyum ramah. Aku memabalasnya. Aku menjawab semua pertanyaan formalitasnya. Seperti biasa. Dia wanita yang cukup cantik menuruku. Tubuh tinggi semampai. Alisnya tebal, alis matanya lentik. Paras wajah yang khas asia membuatnya istimewa di mataku. Di sampingnya ada robot berbentuk kucing berwarna biru yang menemaninya. Dia meloncat-loncat. Aku mengelus robot kucing itu. Seketika robot kucing menubrukku. Dia tak memberiku waktu untukku menghindar. Aku hanya tersenyum. Aku meilhat sekilas petugas tadi juga ikut tersenyum.
***
Sekarang aku harus fokus untuk mencari apa yang aku cari. Tempat yang aku tuju sudah tak terlalu jauh. Aku bergegas. Aku berusaha berjalan mempercepat langkahku. Sudah cepat menurut hitungan matematis otakku.
Hanya menunggu hitungan detik aku sudah sampai tempat yang aku tuju. Tempat universitas ini menyimpan semua buku. Aku tak pernah tau jumlah pastinya. Mungkin ribuan. Mungkin pula jutaan. Atau lebih dari kedua kemungkinan tadi. Tak terlalu menarik mengetahuinya. Sekarang cukuplah dengan kata-kata sangat banyak untuk mewakili jumlah itu.
Ruangan ini begitu luas. Suhu udara di rauangan ini mencapai – 20 ° C. tapi masih terasa cukup panas menururku. Semua yang ada di sini berbentuk digital. Tiga foto besar di sebelah kanan sudut ruangan ini menggambarkan tentang UGM. Foto di tengah menurut ruangan ini adalah foto presiden dan wakil presiden. Di bawahnya ada gambar garuda. Empat layar proyektor TV di pasang di empat sudut ruangan ini. Satu layar proyektor dengan ukuran yang besar adalah database dari semua buku yang tersimpan di Perpustakaan ini. maka tak ada buku yang terbuat dari kertas. Kami hanya bisa melihat buku kertas jiika kami mengunjungi museum.
Aku melangkah menuju layar proyektor besar.
Aku merogoh sakuku untuk mencari catatan di PDA tentang judul buku dan pengarang yang aku cari. Tanganku merogoh-rogoh di setiap sudut saku celana. Ternyata tanganku tak menemukan yang aku cari. Sekarang tanganku berpindah menggeledah seluruh isi tasku. Hasilnya masih sama. Nihil. Mungkin ketinggalan di rumah.
“Sudahalah…” aku berkata lirih.
Aku mengetikkan key word dari buku yang aku cari. Seingat memoriku menyimpannya. Ribuan judul buku muncul. Aku menelan ludah.
“ ah…terlalu banyak” batinku.
Aku mencoba menspesifikkan key wordnya. Sedikit berkurang. Tapi tak terlalu membantu. Masih terlalu banyak
Aku sedikit putus asa. Aku memutuskan untuk mecari tempat duduk. Mengingatnya dengan cara ternyaman. Mungkin itu akan membantu, pikirku.
Dua orang ternyata sedari tadi sudah menunggu di belakangku untuk mengantri. Sedikit merasa tidak enak. Aku melunasinya rasa ketidak enakanku dengan seutas senyum.
***
Kusandarkan tubuhku ke bagian atas kuris warna coklat ini. Aku menaruh tasku ke meja di depan kursi. Aku membuka resleting tasku, mencari sesuatu. Ku rogoh bagian atas tasku. Tanganku mulai meraihnya. Ini pil pengenyang. Kami menyebutnya demikian. Sekarang kami tak perlu serepot dulu yang harus makan dalam jumlah banyak untuk menjadi kenyang. Cukup dengan pil ini 2-3 hari kami tak akan merasa lapar. Di zaman ini tak mungkin bagi kami untuk memakan makanan yang alami. Tadi sudah ku bilang. Sudah tak ada yang di wariskan oleh generasi dahulu. Satu-satunya warisan adalah segela keterbatasan ini.
Aku mulai mengingat buku itu. Tak terlalu lengkap. Mendekati lengkap mungkin kata yang lebih cocok. Segera tubuhku bangkit menuju tempat layar proyektor database tadi.
Kumasukkan key word lagi. Sekarang hanya menyisakkan 10 buku yang sesuai dengan key wordku. ku masukkan flasdiskku. Untuk memindahakan 10 buku tadi.
“ selesai juga…”.
Aku kembali ketempat duduk yang tadi. Aku menyalakan notebookku. Memencet layar touchscreen notebooku. Memasukkan data dari 10 buku tadi ke dalam notebookku. Memindahkannya. Mencari dan memilah buku yang mana. Buku pertama, bukan. Buku kedua, juga buka. Buku keempat, kelima dan keenam, juga bukan. Berpindah ke buku ketujuh.
“ Nah ini dia. BUMI MASA LALU”.
***
Kuputuskan Melihat daftar isinya terlebih dahulu. Mencari bab yang mengulas data yang aku butuhkan. Kutumekan data yang kubutuhkan ada di Bab V. Sekitar 200 halaman.
Aku mulai membukanya.
Halaman-halaman awal membahas tentang bunga. Berbagai macam jenis bunga dengan penjelasan singkatnya. Indah. Bukan indah , tapi sangat Indah.
Aku melihat bunga matahari. Mebaca penjelasan tentangnya. Bunga ini adalah bunga yang seolah-olah replika matahari. Bergerak mengikuti matahari. Ketika matahari terbit dari timur, bunga ini mengahadap ke timur. Ketika matahari tenggelam bunga ini pun menjadi layu.
Andaikan kakek buyutku tak pernah serakah. Sedikit saja merasa peduli dengan alam. Peduli terhadap kami, generasi penerusnya. Mungkin saat ini aku masih bisa melihat bunga mtahari. Menikmati segala macam keindahan alam. Aku menghela nafas dalam.
Halaman berikutnya juga msih membahas mengenai berbagai macam bunga. Bunga tulip, bunga mawar, bunga melati, bunga lili, bunga kamboja, bunga raflesia, dst. Halaman demi halaman kubuka. Ada rasa kesal, ada rasa ingin tau yang besar dan ada pengaharapan.
Sampai pada halaman tentang hewan yang pernah ada di muka bumi. Aku membukanya, membacanya, menelaah satu persatu. Aku berhenti pada halaman yang bercerita tentang Panda. Hewan yang sungguh lucu pikirku. Memiliki bulu yang mengabungkan perpaduan WARNA hitam dan putih. Bulunya begitu tebal. Tubuhnya tambun. Mata yang lucu. Binatang yang benar-benar lucu.
Setelah puas dengan halaman-halaman di bab Sejarah Makhluk Hidup di Bumi. Aku berpaling ke bab selanjutnya. Bab tentang Kehancuran dan Keserakahan. Bab yang paling kuhindari sebenarnya. Tapi terpaksa harus ku buka dan kuperdalami. Apaboleh buat, tugasku kali ini berhubungan dengan hal itu.
Aku mulai membaca tiap kata dalam kalimat dalam pargraf. Tak ada yang ingin aku lewatkan. Halaman yang satu berganti ke halaman berikutnya. Aku terus menyimak. Kadang ada sentakan emosi ketika membaca. Banyak hal yang terlalu mengerikan. Kejam.
Kecurangan, kemunafikkan, kekejaman seolah menjadi topeng manusia pada zaman itu. Seperti sebuah interpretasi keberadaan setan dalam diri setiap manusia. Dalam perang seolah tak ada kata belas kasihan. Tak paham arti mengasihi. Iba. Yang ada hanya bagaimana mengahncurkan. Mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Kekuasaan. Mereka tak terlalu peduli akan korban meraka. Anak-anak yang masih tak mungkin untuk melawan menjadi korban kebiadapan itu. Wanita yang secara kodrat untuk dilindungi di tuntut harus ikut terlibat melawan. Lansia yang sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu untuk merasakan kehidupan keabadian, juga tak mampu menghindar dari amukan kekejaman manusia.
Manusia memborbardir semua tempat. Rumah sakit, sekolah dan bangunan lain yang begitu penting dalam sendi manusia harus hancur luluh lantah. Tak peduli akan masa depan. Kaum pengacau yang beringas terus melakukan itu. Satu pihak kalah berpindah kepihak lain untuk ditaklukkan. Terus berlangsung bagai alur sebuah cerita yang tak pernah ada endingnya. Mereka tak pernah sadar akan apa yang harus mereka pertanggungjawabkan. Karena meraka akan tak meresakan karma itu. Tapi kami di zaman ini yang harus menanggung semua pertanggung jawaban itu. Merasakan setiap lapisan karma itu.
Aku menyandarkan kepalaku di kursi. Aku menghela nafas panjang. Air mataku menetes. Sesenggukan. Banyak andai-andai diotakku. Andai dulu seprti ini pasti sekarang seperti ini. Andai ini, andai itu, andai, andai dan andai. Menyesali ini dan itu. Kecewa. Aku menghela nafas panjang lagi untuk menstabilkan emosiku.
Buku ini kemudian bercerita tentang jamur, bakteri, virus. Yang jumlahnya sangat banyak. Aku mebuka halaman demi halaman. Setiap halaman yang ku buka aku seperti tertarik medan magnet yang mengirimku ke masa lampau. Masa lampau yang telah disia-siakan. Masa lampau yang duhuni oleh manusia yang diperbudak oleh keserakahan.
Jam tanganku berbunyi. Sengaja kupasang alarm untuk mengingatkanku akan agenda ku berikutnya. Aku menutup notebookku. Ku masukkan dalam tasku. Tubuhku bangkit dari kursi dan aku melangkah keluar perpustakaan. Mengakhiri perandai-andaianku tadi.
***
Sepuluh tahun berikutnya, waktu perubahan yang menentukan…
Semua orang sudah siap berada di luar rumah mereka. Ada yang berada di jalan, ada yang di depan kampus, ada yang di depan kantor. Intinya semua sudah siap untuk memulai sebuah awal dari perubahan besar. Perubahan yang selama ini diharapkan.diimpikan.
Kami menunggu aba-aba yang serentak di seluruh penjuru dunia. Kami akan serentak menanam tanaman perubahan. Kami menyebutnyan demikian. Karena tanaman ini ditemukan dengan perjuangan yang tak mudah. Tanaman yang sudah ditunggu semua orang sekian lama. Tanaman ini adalah tanaman yang berhasil dihasilkan oleh semua penemu dari semua negara di dunia. Tanaman yang akan menghijaukan bumi ini lagi. Membuatnya tersenyum kembali. Satu hasil penelitian berganti dengan penelitian yang lain. Tak satupun yang berasil. Sekarang kami akan mencoba lagi. Gagal atau berhasil hanya dua pilihan itu yang ada. Namun kami tak akan pernah lelah. di otak kami ketika satu penemuan muncul adalah awal perubahan. Awal akan terciptanya harapan-harapan kami.
lolongan bunyi yang panjang dan keras. Serentak di seluruh penjuru dunia. Pertanda bahwa semua sudah siap. Siap untuk menanam perubahan. Perubahan yang lebih baik.

071209.10.09WIB




Jumat, 12 Februari 2010

Sebarut Senja Ibu


Aku berlari, membuka kemudian membanting pintu kayu rumah yang sudah reot. Menerobos keluar. Aku tak tau ini jam berapa. Dan memang tak sempat untuk sekedar melihat jam. Tak terlalu penting. Yang bisa kulakukan hanya melangkah secepat yang aku mampu.
Udara dingin begitu ganas. Tubuhku menggigil, aku lupa memakai jaket. Tapi itu sama sekali tak membuatku berhenti. Aku terus melaju, melewati sepinya kota. Kota, malam ini begitu lengang. Hanya sesekali motor berseliweran.
Aku terus berlari. Aku tak paham berapa jauh aku sudah melangkah, aku masih terus berlari. Segurat wajah lemah ibu ada dibenakku. Wajah teduh yang sekarang tergolek tak berdaya. Wajah yang selama ini mengajarkanku makna hidup secara berbeda. Mengajarkan aku kuat dan tak pantang menyerah. Mengajarkan aku selalu tangguh menghadapi kerasnya hidup. Melarangku untuk menangis hanya karena masalah dunia.
“Jangan menangis hanya kerena masalah dunia cah ayu, menangislah hanya kerana kamu mengingat Alloh. MerindukanNya. Hanya di saat itu kau boleh menangis.”
Kata–kata itu selalu terniang ketika aku selalu menghadapi masalah. Menjadikanku selalu menyembunyikan air mata menjadi sebuah senyuman. Aku tak mau ibu tau kalau aku menangis, karena itu hanya akan menjadikan beban untuknya. Saat ini aku melakukannya, seberapapun kuatnya dorongan untuk menangis, aku berusaha menahannya. Aku berusaha susah payah menahannya.
Ibu aku mencintaimu. lirih dalam hati aku mengucapkan itu.
***
Aku terus berlari. Mataku begitu mengantuk, sudah beberapa hari aku tidak tidur untuk menjaga ibuku, TBCnya semakin parah. Beliau sering batuk darah, karenanya Setiap malam aku selalu berjaga. Paginya aku bekerja.
Dua hari ini aku makan dengan tak layak, hanya sanggup makan makanan sisa yang disisakan oleh temanku. Bagi mereka mudah saja membuang nasi ketika kenyang, tapi berbeda denganku. Bisa makan saja, sudah membuatku harus bersyukur. Uangku habis untuk biaya berobat ibu. Aku tak akan mampu kenyang ketika ibuku belum mendapatkan obat.
***
Aku masih terus berlari. Aku terlempar ke ingatan dua belas tahun silam. Saat itu Ayahku selalu pulang dengan keadaan mabuk berat dan aku melihat ibuku menjadi korban ketidakwarasan ayah. Ibu dipukuli olehnya. Kejadian itu tidak terjadi hanya sekali, tapi setiap malam. Mulai dari sabuk, sapu, kemoceng hingga apapun yang dia temukan akan digunakannya memukuli ibuku. Tapi aku melihat sosok ibu begitu tegar menghadapinya. Beliau hanya menjerit ketika dipukul, kemudian menahannya. Tak pernah menangis.
Walau pukulan itu menjadi siksaan setiap hari bagi ibu. Ibuku tak pernah berhenti menunggu ayahku pulang. Ia duduk di sofa dengan kantuk berat yang kadang membuatnya tertidur. Memopong tubuhku yang masih kecil dipangkuannya. Kalau ayah menyiksa ibuku hingga menjelang pagi, itu tak akan mengahalanginya menyiapkan sarapan pagi. Jam 06.00 pasti makanan sudah tersaji di meja makan. Walau biru legam menghiasi beberapa bagian kulitnya. Satu hal lagi yang membuat ibuku begitu hebat dimataku adalah bahwa ibuku selalu berusaha membangunkan ayahku untuk sholat shubuh. Dengan telaten hal itu dilakukannya setiap hari. Yah, meskipun bisa ditebak hanya bentakan yang menjadi balasannya.
Hingga semuanya semakin parah. Ayahku bangkrut karena hutang judi. Semua harta yang kami miliki ludes untuk melunasinya. Parahnya ayahku pergi menghilang, entah kemana. Setelah meninggalkan sekian luka bagi ibu, dia pergi begitu saja. Akhirnya ibuku mengasuhku dengan kedua tangannya, sendirian. Dengan uang modal yang diberikan oleh keluarga ibu. Kami berjuang. Tak pernah mengeluh menapaki jalan hidup ini. Sekarang usiaku sudah 18 tahun. Sekarang adalah giliranku untuk menjaga ibuku. Membalas semuanya.
***
Aku tak lelah berlari. Nafasku sudah terengah-engah. Asmaku kumat. Tapi itu tak menghentikan kecepatan berlariku. Kaki mulai lemas. Terlalu lelah. Rumahku yang jauh dari berbagai akses memaksaku untuk menempuh perjalan sepuluh kilometer untuk membeli obat di apotek.
Aku terus berlari. Sambil memegangi kerudung pemberian ibuku yang kukenakan saat ini. Aku mempercepat laju lari. Menerobos semak semak agar aku bisa menempuh jalan yang lebih cepat. Aku berusaha melewati jalan tikus agar aku bisa sampai lebih cepat. Ibuku sudah tak mungkin menggu terlalu lama.
Ah…Tidak!!!
Lampu hijau. Padahal, Apotek sudah di depanku. Motor, mobil, truk dan angkot berlalu lalang. Disini memang tempat paling ramai meskipun malam hari. Tidak ada waktu untuk menungunggu pikirku.
Aku menjinjing rok yang ku kenakan, berusaha memanjat pagar didepanku. Tak mudah ternyata. Aku berusaha susah payah. Berkali-kali aku harus melorot dari pagar. Seketika itu pula aku berusaha naik lagi. Berulang aku mencoba berulang itu pula aku gagal. Hingga kali ini aku berhasil. Tapi rokku robek tersangkut pagar. Nafas sesakku mulai membuatku tersiksa. Kakiku seperti membawa beban berton-ton.
Sampai di depan Apotek 24 Jam itu, aku mencoba mengatur nafasku yang begitu kepayahan. Aku memegangi rokku yang sobek. Mencoba mengistirahatkan semua sendi-sendi tubuhku. Setelah mendapatkan obat aku segera melangkah bangkit. Segera meninggalkan Opotek itu untuk pulang.
***
Aku terus berlari. Kini lariku semakin sulit, karena aku harus berhati–hati untuk memegangi rokku yang sobek. Langkahku sering terhenti. Semua semakin berat. Namun sesuatu melintasi otakku, yang menguatkanku kembali untu tidak mengeluh.
Otakku membuang ke ingatanku akan masa saat ibuku masih kuat. Masa pembelajaran akan berbagi diberikan olehnya. Meski untuk makan saja kami kesusahan. Namun ibu tak pernah menjadikannya alasan untuk tidak berbagai. Kami cenderung harus rajin menahan lapar karena uang untuk makan hari ini harus habis dibagikan.
“ Cah ayu, hari ini kita makan sepotong ubi ini aja ya. Tadi ibu ketemu mbah-mbah yang sudah tua. Ia sedang menggendong dagangannya yang berat banget. Ibu gak tega cah ayu. Ibu kasihan sama mbah itu. Jadi ibu memberikan uang yang ada di dompet ibu kepada mbah itu.”
“ Ah buk, mosok setiap harus makan seperti gini terus buk”.
“ Sabar cah ayu, besok ibu masak enak untukmu”.
Jawaban ibu yang begitu lembut itu yang menenangkanku. Membuatku kuat menahan lapar yang melilit perut. Walau terbukti, ibu tak pernah masak enak.
***
Aku masih berlari. Bulan tak terlalu menampakkan cahayanya, dia membentuk sebuah sabit. Bintang-bintang hanya sedikit yang menemani bulan di malam ini. Mungkin mereka pergi untuk menemani ibu di rumah. Atau mereka bersembunyi karena terlalu kasihan memandang keadaanku sekarang.
Aku sudah dekat dengan rumahku. Asmaku benar sudah tak sanggup kutahan. Menyesakkan. Aku begitu kesulitan menghirup udara. Hidungku seperti tersumbat.
***

Aku terus berlari.Hanya berselang beberapa rumah lagi aku sampai rumah. Rumah yang berdinding anyaman bambu itu sudah kulihat. Aku masih tersiksa dengan asmaku. Dan aku juga masih berjuang untuk segera memberikan obat ini.
“Gedebrukk…”
Aku tersandung batu tepat di depan rumah. Tubuhku melemas. Tanah dan kerikil menggores kulitku. Kaki kananku dan tangan kiriku meneteskan darah. Perih. Aku benar-benar sudah tak mampu bertahan. Aku sudah tak mungkin berlari. Tubuhku tak mau diajak berdiri. Aku hanya sanggup merangkak mendekati rumah. Berusaha menahan perih luka dan asmaku.
Pelan-pelan aku menyeret tubuhku dari tanah menuju rumah hingga aku melihat ibuku sudah tergeletak di lantai. Ibu melihatku sebentar dengan memberikan senyuman tulus kepadaku. Aku melihat air mata menetes di pipinya, yang selama ini tak pernah kulihat. Darah menetes di pipinya, sebagian masih terlihat kental dan sebagian yang lain terlihat sudah mengering.
“ Ibu, ini obatnya. Sabar bu aku segera ke sana” teriakku.
Ibuku seolah tak mendengarkan terikanku. Aku sudah begitu dekat dengannya. Aku merangkak mendekatinya. Aku memegang tangan ibu. Meletakan di tangannya. Tapi aku merasakan tangan ibu begitu dingin dan lemas.
Ibu memejamkan mata. Aku menangis. Air mata menemani teriakanku. Aku sudah tak mampu menahannya. Nafasku menjadi semakin sulit. Aku berusaha menghirup udara. Tapi gagal, aku tak bisa menghirupnya.
Aku ambruk di dada ibuku. Semua berubah hitam. Semua gelap. Aku melihat ibu mengajakku ke tempat yang begitu terang.
17122009, 22:55


Rabu, 02 Desember 2009

Syurga dan cinta di Palestine


Kring…..kring…..kring…suara SMS berbunyi di HPku. “ wah siapa sich? Masih pagi-pagi buta ini sudah sms” gumanku dengan nada jengkel. Dengan langkah yang sangat malas aku ambil HPku yang letaknya kira-kira 10 langkah dari tempatku sekarang. Kemudian kubaca SMS yang telah menghancurkan mimpi-mimpiku tadi sambil mengucek mata. “ asw.Akhy, slmt y, lamaran antum ke ukhti Zia dtrm ”. Itulah isi sms dari Rudi, kawanku Rohis di UGM.
Secara spontan aku langsung mengucap Alhamdulillah . Seketika itu pula aku langsung membalas sms sahabatku tadi “ alhamdullilah yaa akhy, tp bnrkh sms antum tadi? Af1 ni mslh pntg akh, jd ana bth kepastian lg. btw, kok bisa ya Murrobi kita bisa kehilangan nomor ana? Hehehehe”. Kemudian aku letakkan kembali HPku di tempat semula sambil nyengir bahagia. Kemudian kurebahkan kembali tubuhku di tempat tidur. Sambil menunggu adzan shubuh berkumandang sekaligus menunggu jawanban dari SMSku tadi.
5 menit kemudian terdengarlah suara adzan shubuh dari masjid sebelah kosku. Langsung. Kubangunkan tubuhku untuk segera mengambil air wudhu.
***
“Assalamu’alaykum Kang Ni’am…piye kabare? sui banget gak ketok?” Tanya Kang Zaza’ salah seorang ta’mir masjid setelah sholat shubuh selesai.
“Wa’alaykumussalam, Akh. Alhamdulillah apik…mosok to akh? Kayaknya biasa aja dech…. Hahahaha” jawabku dengan iringan tawa.
Kami pun berbicara panjang lebar untuk melepas kangen. Mungkin benar kata Akh Zaza’ aku akhir-akhir ini jarang kelihatan di masjid. Itu karena kesibukanku mengurusi banyak kegiatan dakwah di kampus.
Tanpa kami sadari pembicaraan kami ternyata telah sangat lama. Hingga kami bisa melihat matahari telah mulai tampil ke dunia. “akh gak kerasa ya uwes suwi banget” kata-kataku untuk mengakiri perbincanganku yang sangat seru itu.kami pun langsung berpamitan.
Sesampainya di rumah kucoba membuka HPku untuk mencari apakah sudah ada balasan. “ uhhhhhhhhh…kok gak di bales- bales ya?” ujarku dengan sedikit kecewa karena belum ada balasan dari rudi. Kuputuskan untuk mencoba berhusnudzon terhadap hal ini. Mungkin ada sesuatu yang membuat Rudi belum bisa membalas smsku.
***
Mentari dengan terik sinarnya mencoba membuat manusia untuk menahan sabar. Keringat yang sanggup mengucur deras karena siksaan panas matahari adalah salah satu cobaan itu. Hari ini aku harus berada di kampus hingga larut malam. Karena aku ada kuliah dan menyiapkan segala sesuatunnya untuk kajian besok.
Kelelahan mencoba menghadangku untuk terus melanjutkan aktivitas. Jadi aku mencoba menanganinya dengan merebahkan tubuhku di masjid. Aku masih terus berfikir tentang sms tadi pagi. “ apa iya ya lamaranku diterima?” gumanku. Tapi tak berselang lama smsku berdering. Langsung dengan kecepatan penuh kuambil HPku “ iya akh!!!!! Selamat ya!!!!!hari ini antum di ajak ktmuan ma murrabi ba’da magrib di masjid kampus ” .
“ Alhamdulillah…Alhamdulillah..Alhamdulillah”.
“Ada apa Akhy?” sahut temanku melihat kegiranganku. Tidak ada apa-apa kok, cuma lagi seneng aja jawabku.
Yah semua orang jangan sampai tau terlebih dahulu sebelum aku mendengar langsung kabar sesungguhnya nanti. Cukuplah aku, sahabatku rudi dan murrabiku yang tau. Karena aku tidak ingin membuat mereka kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan kabar yang telah aku terima sekarang.
“ Afwan temen-temen, ana minta izin untuk pulang terlebih dahulu karena ada urusan yang sangat penting” kucoba untuk meminta izin ke temen-temen.
“ Urusan apa? Penting banget ya kayaknya? Kalau ana sich gak papa” sahut salah satu temanku.
“ Kalau teman-teman yang lain gimana?” izinku ke forum dengan sedikit memelas.
Yah dengan seribu alasan yang aku buat akhirnya teman-temanku menyetujuinya. Mereka sempat curiga karena tidak biasanya aku aneh seperti ini. Kecurigaan mereka karena aku tadi agak kebingungan menutupi kebenaran yang coba aku pendam. Jadi argument satu dengan argument yang lain agak rancu dan aku banyak salah tingkah. Tapi biarlah, mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka semua aku beritahukan berita ini.
Tiba-tiba muncul hasrat untuk memberitahukan kabar gembira ini ke ibuku. Tapi langsung kuurungkan niatku itu. Karena aku tidak ingin membuat ibuku nanti kecewa Jika kabar ini ternyata tidak benar. Aku sudah takut untuk membayangkan bagaimana kecewanya hati ibuku, karena selama ini ia sudah sangat ingin agar segera menikah. Itu karena wasiat dari abahku sebelum meniggal 2 tahun yang lalu.
Almarhum abahku berwasiat kepada ibuku dan aku sebagai anak tunggalnya “ Aku ingin segera memiliki menantu dan memomong cucu, Nak, tapi jika memang Alloh menakdirkanku untuk meninggal terlebih dahulu. Maka jangan sampai kamu juga belum punya pasangan hingga Alloh menakdirkan ibumu untuk menyusul bapak”.
Tak terasa keluar air dari kelopak mataku saat diriku mengingat hal itu. Sungguh aku merasa sangat durhaka karena baru sekarang bisa memenuhi wasiat itu setelah Alloh memanggil abahku. Semoga rahmat Alloh kepada almarhum bapakku.
***
Kehadiran matahari sudah digantikan dengan bulan. Udara berhembus sejuk yang membuat tubuh rasanya hanya ingin membalingkan diri di kasur. Sambil bermimpi hal-hal yang indah. Udara seperti merayuku untuk enggan berangakat. Tapi itu tidak mungkin karena sekarang aku akan menjemput wasilah cintaku.
Aku sudah langsung merancang ribuan harapan dan angan-angan ketika kelak aku akan menikah. Aku sudah mengonsep bagaimana kelak prosesi ahad nikah, konsep untuk walimahan, konsep bagaimana kelak mendidik anak, berapa jumlah anak yang akan dilahirkan.
“Astaghfirllah…”.seketika lamunanku buyar karena suara adzan sudah dikumandangakan.
Entah kenapa dalam sholat kali ini aku meneteskan air mata. Seolah-olah setiap lantunan ayat yang dibaca telah merasuk hingga ke hatiku. Saat ini hanya ada Alloh yang ada di otakku. Ruang seperti hampa tak ada orang, dan yang tersisa hanya aku dan Alloh. Aku bagaikan nabi Musa yang sedang berdialog dengan Rabbnya saat itu.
Selesai sholat pun air mataku masih tak henti mengalir. Semakin aku berdzikir semakin kuat pula tangisku. Tiba-tiba ada seseorang yang memberikan sapu tangan kepadaku. Seketika aku menengok dan ternyata itu adalah murobbiku. Kemudian dengan penuh cinta beliau langsung memelukku dengan erat.
Setelah emosiku mulai stabil murabbiku mulai membuka perbincangan. “ Akhy ana akan menyampaikan dua perkara yang baik untukmu. Namun dua perkara ini juga bisa menjadi sesuatu yang akan sangat sulit untukmu” murrabiku mulai berbicara.

“InsyaAlloh ana siap, Ustadz, jika memang itu baik untukku maka aku akan ridho” jawabku dengan yakin.
“Begini akhi, kemarin murabbi ukhti zia menghubungi ana dan mengabarkan kesediaan Ukhty Zia menjadi pendamping hidup antum dan penyempurna separuh agama antum” murrabiku berkata dengan nada lemah lembut sebagai kekhasan gaya bicara beliau.
“ Allhamdulillah, lalu kapan saya bisa melamarnya?” sahutku tanpa basa-basi.
“ Tunggu sebentar anakku, ana belum selesai berbicara” tutur beliau khas orang tua yang sedang berbicara kepada anaknya.
Kemudian beliau melanjutkan pembicaraan .“ selang waktu yang tak begitu lama setelah murrabi ukhti zia menghubungi ana. Ustadz Zubair yang mengkoordinasi relawan yang akan dikirim ke Palestine menghubungi ana. Beliau bilang antum lolos seleksi menjadi calon relawan yang akan dikirim ke Palestine. Antum akan dikirim ke Palestine untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan dan sesegera mungkin harus berangkat karena mengingat keadaan palestine sekarang yang sangat butuh bantuan”
Aku laksana disambar geledek dan ekspresi mukaku berubah seketika. Aku tidak tau apa yang harus aku ucapkan karena jihad ke Palestine adalah cita-cita tertinggiku. Mungkin bukan hanya aku. Tapi itu juga merupakan cita-cita bagi setiap muslim yang merindukan syurga.
Kucoba untuk mengerakkan otakku dan mengerahkan saraf-sarafnya untuk membantuku menemukan sebuah solusi. Tapi usahaku berakhir sia-sia yang aku dapatkan hanya kebuntuan. Aku seperti buah simakala yang serba salah jika harus memilih salah satu. Jika aku memilih untuk menikah maka aku telah durhaka kepada Alloh. Tidak semua orang yang bisa mendapatkan nikmat kesempatan berbuah syurga seperti ini. Aku juga akan mendzolimi banyak orang karena pasti banyak di antara mereka yang tidak bisa berangkat ke sana gara-gara aku yang terpilih. Padahal pasti harapan mereka besar untuk ini.
Tapi jika aku putuskan untuk pergi ke Palestine maka aku akan mendurhakai wasiat almarhum abahku. Aku juga akan mendzalimi calon isteriku. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika aku batalkan lamaran ini.
“ Akhy percayalah Alloh selalu memberi yag terbaik untuk hambanya dan Alloh tidak pernah mempersulit masalah hambaNya. Karena sesungguhnya ia ada sangat dekat dengan hambaNya. Yakinlah itu anakku!!” murrabiku mencoba menenangkanku.
“ Semoga ana kuat ustadz. Lalu kapan ane harus memberikan jawaban atas pilihan yang harus saya pilih?”.
“ Kalau bisa ya secepatnya akhy, soalnya keduanya ingin segera membutuhkan jawaban dari antum. Memang ana juga tau bagaimana posisi antum sekarang, tetapi antum harus sangat bijak dalam menilai masalah ini” jawab murabbiku.
“Kalau menurut ustadz apa yang sebaiknya aku pilih?”. Kucoba untuk mendapatkan jawaban dari orang yang sholih.
“Akhy ini masalah yang sangat serius karena akan menyangkut hidup antum ke depan. Tetapi kalau memang ana harus memberikan saran pilihan yang harus antum pilih. Maka ana menyarankan agar antum memilih jihad ke Palestine. Karena Alloh dalam firmanNya banyak berjanji akan menyediakan surga bagi orang-orang yang mau melaksanakan jihad. Siroh juga mendukung itu akhy. Ingatlah bagaimana Rasululllah membawa kabar gembira ketika banyak sahabat yang syahid di jalan jihad ketika di zaman itu. Sa’ad bin Mu’adz yang sanggup menggoncangkan Arsy Alloh, kemudin Sumyyah , Yasir, Hamzah bin Abdul Muthalib dan masih banyak sahabat yang lain. Mereka telah disiapkan surga oleh Alloh. Tapi jangan lupa untuk beristikhoroh karena sebaik-baik jawaban adalah jawaban yang datangnya dari Alloh”
Jawaban yang cukup membuatku sedikit tenang tapi bagaimana dengan wasiat ayahku? Yah bener, aku harus beristhikoroh dan meminta pertimabangan kepada ibuku. Karena masalah ini juga menyangkut dengan beliau. Iya harus begitu.
***
Aku putuskan untuk pulang ke daerah asalku yaitu di Kediri. mungkin sudah sangat lama aku tidak pulang. Tapi ketika pulang malah membawa sebuah masalah sebagai oleh-olehnya. Sungguh aku anak yang belum bisa berbakti kepada orang tua.
“Assalamu’alaykum ummi….”
“Wa’alaykumussalam…” suara yang sudah sangat aku kenal menjawab salamku.
“MasyaAlloh anakku, kok datangnya dadak dan gak memberi kabar dulu?”
“Maaf ummy anakmu ingin member kejutan aja” kujawab dengan menekan persaanku agar jangan sampai aku menagis di hadapan ummiku.
Sesudah makan aku coba mengajak ummi untuk membicarakan masalahku. Beliau mungkin sudah tau. Karena tidak mungkin aku pulang mendadak jika tidak ada masalah.
“ enek opo to le?”
Sambil menangis aku menerangkan semuannya pada ummyku. Ummyku pun menyimak dengan penuh perhatian. Beliau mengelus-elus kepalaku untuk mencoba menenangkanku.
“ Yah ummi menyerahkan semuannya ke kamu sajalah” jawab ummyku ketika sudah mengetahui semua ceritaku.
“Tapi bagaimana dengan wasiat abah?”
“Sudahlah nak, yang menjalanai hidup adalah kamu. Jodoh itu ada di tangan Alloh. Mungkin tidak sekarang tapi besok, lusa atau entah kapan, pasti Alloh akan mempertemukanmu dengan jodohmu. Jangan kuatir juga ummmy pasti akan menunggu sampai waktu itu datang. Kan mati juga hanya Alloh yang tau” jawab ummyku.
Jawaban ummy semakin membuat aku bingung. Karena sebelum pulang kampung, aku sudah melakukan sholat istikhoroh selama tiga hari dan hasilnya sama dengan jawaban ummy.
***
Hari ini langit sangat cerah seolah-olah mendukung keberangkatanku menegakkan agamaNya. Tepat pukul 17.00 waktu palestine aku berhasil landing di Palestine. Aku bersama rombongan yang banyak dari mereka adalah orang-orang yang baru aku kenal langsung disambut oleh tiga tentara. Yang kalau menurut prediksiku mereka adalah tentara HAMAS.
Kami di bawa ke markas mereka di daerah gaza, daerah yang sering mendapat kontak langsung dengan zionis biadab. Rombongan kami sepenuhnya adalah dokter jadi tugas kami adalah dalam masalah kesehatan. Tapi kami sudah punya komitmen untuk juga ikut berperang jika dibutuhkan.
Selama kami di sana akan dipandu oleh Syafullah Hamidz bin Zubair. Ia adalah seorang tentara. Ia bercerita panjang lebar dengan kami tentang bagaimana kejamnya zionis. Mereka adalah manusia yang memiliki akal binatang dan hati seperti iblis gambaran yang ia buat untuk kebiadaban palestine.
Aku pun langsung mencoba adapatasi diri dengan daerah Palestine. Kucoba kupelajari daerah palestine dengan segala seluk beluknnya. Palestine adalah Negara yang gersang tapi tidak segersang Negara Arab. Sejak invasi Israel, air yang ada di Daerah Gaza sangat kotor, penuh kuman, dan tidak layak minum. Tetapi itulah biadabnya Israel, mereka tau itu tapi malah memperparah keadaan. Mereka melarang bantuan apapun dari dunia luar yang hendak masuk ke Palestine. Sungguh biadab mereka.
***
Delapan bulan berlalu sejak pertama kedatanganku ke palestine. Aku sudah lumayan mengenal segala sesuatu tentang palestine. Yah sebuah negeri kecil yang penduduknya harus tertindas di rumah mereka sendiri. Satu hal lagi yang aku pelajari disini adalah susahnya untuk menemukan orang ketawa. Mereka kebanyakan berada dalam keadaan yang tertekan, was-was, dan selalu memikirkan penyikasaan apalagi yang harus mereka alami. Sungguh aku menjadi sangat dzalim kepada mereka karena selama ini aku bisa tertawa bahagia di Indonesia disaat mereka sedang menagis disini.
“ akhy ada surat dari Indonesia buat antum!” suara jamal yang merupakan salah satu relawan mengagetkanku.
“dari siapa akhy?” jawabku.
“ ana tidak tau akhy. Mungkin antum langsung membacanya sendiri aja.
“ syukron akhy jamal”.
Kemudaian aku baca surat itu, sebauh surat dari Zia









Yogyakarta, 16 Februari 2005
zizadatul muslimah



Kepada mas iqbal yang luhur budimu,

Gimana kabar di palestine mas? Pasti Alloh selalu melimpahkan rahmatNya ke mas. Perjuangan mas memang tak pernah akan sia-sia. Banyak pengorbanan yang telah mas lakukan. Saya disini hanya bisa mendoakan agar mas senantisa dalam perlindunganNya.

Saya malu sungguh kepada mas. saya memang gadis hina yang telah mengingkari janji. Saya wanita yang lemah yang tidak bisa mempertahankan kotmitmen kita. Saya wanita yang tidak bisa setangguh mas yang berani untuk melakukkan pengorbanan untuk sebuah cinta. tapi ada seseuatu yang akan aku ceritakan karena mas harus tau itu.

Tepat lima bulan kemarin orang tuaku sudah menikahkanku dengan calon yang mereka pilihkan. Sudah berulang-ulang aku tolak. Tapi orang tuaku beralasan sama yaitu tidak ada jaminan tentang nasib mas. Orang tuaku juga sudah menganggapku terlalu tua untuk terus menjadi seorang perawan. Mungkin ini salah kita kenapa tidak langsung meresmikan cinta kita dalam ikatan janji yang suci. Tapi tidak ada gunanya menyesal karena itu tida akan merubah apapun.

Maafakan zia yang pengecut ini ya mas karena baru berani memberitahukan semuanya sekarang. Tapi zia bener-bener malu mas. Baru detik saat kutulis surat ini mulai aku kokohkan keberanianku untuk memberitahukan semua ini kepada ,mas.

Silahkan jika mas iqbal marah terhadap saya. Saya memang patut untuk mendapatkan itu. Tapi jika aku bisa diberi pilihan maka aku ingin memilih untuk bisa dimaafkan mas iqbal. Aku juga ingin agar masalah ini tidak memutus tali ukhuwah kita. Dan yang terakhir aku ingin masalah ini tidak membuat mas iqbal kecewa. Yah, mungkin permintaan terakhirku adalah permintaan yang mustahil. Tapi tulah harapan-harapan dari sebuah pilihan jika aku bisa diberi kesempatan untuk memilih.
Diriku terbujur kaku, lemas dan tak berdaya setelah membaca surat itu. Sungguh sebuah surat yang dengan seketika telah menghancurkan segala impian-impiankuku. Hari dalam hidupku terasa telah berhenti. Aku langsung terduduk kaku. Air mataku sudah tak bisa terbendung lagi.
Semua orang yang melihatku mencoba menenanganku. Mereka melakukan segudang cara untuk melakakukan itu. Tapi tak satupun usaha mereka yang sukses. Aku masih tetap pada keadaan yang sama. Aku juga tidak beranjak dari posisi semula.
Semua orang kuatir padaku. Tapi aku seolah tidak memperahtikan mereka. Aku sedang tidak peduli pada siapapun. Karena otakku sekarang kosong. Yang ada dalam hidupku hanya kekecewaan yang mencoba mengerogoti hatiku. Sungguh betapa tidak bisanya persaan kecewa ini untuk di ungkapkan.
***
Berhari –hari keadaanku tidak membaik. Memang aku masih melakukan tugasku dengan baik. Tapi aku bagai manuisia yang telah kehilangan jiwanya. Mungkin aku seperti mayat hidup atau seorang robot. Aku tidak peduli pada diriku sendiri apalagi pada orang lain.
“ gawat…gawat…gawat!!!!tentara Israel sedang berencana menyerang rumah ahmad yasir “ dengan sangat takut salah satu tentara HAMAS memberitahukan berita penting ini pada kami semua.
Dengan cepat kami semua segera berangkat menuju lokasi penyerangan. Karena kami tau jika tentara Israel mau menyerang dengan alasan mau menyerang rumah petinggi hamas. Maka mereka sanggup melakukannya dengan biadap. Mereka tidak akan segan-segan untuk menghancurkan apapun yang akan meghalanginya. Dan dapat dipastikan ribuan jiwa akan mati. Karena memang perlawanan yang tidak seimbang.
Tiga rudal Israel telah diluncurkan sebelum kedatangan kami. Ketika kami datang tentara Israel sudah penuh dengan perlengakapan tempurnya yang serba canggih. Mereka tidak pandang bulu dalam penyerangan ini. Mereka sanggup melakukan hal yang sangat kejam terhadap wanita, anak-anak, balita, hingga orang tua yang sudah uzur.
Tiba- tiba pandanganku tertuju pada seorang bapak-bapak dan seorang perempuan berteriak meminta tolong . dengan cepat aku segera menuju kesana untuk menolong mereka berdua. Entah kenapa pula seolah aku sanggup melupakan masalahku untuk sejenak. Dengan cepat mereka segera aku larikan ketempat yang aman.
Setelah hampir 10 jam tentara Israel menyerang. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikkan penyerangan untuk sementara. Dari kabar yang aku dengar karena mereka mersa pemimpin HAMAS yang mereka cari sudah tidak ada di lokasi. Tapi mereka sungguh meninggalkan kebiadabannya. Lebih dari 500 orang meninggal dunia, lebih dari 2000 orang terluka dan lebih dari 400 rumah serta banyak fasilats umum hancur lebur rusak karena serangan.
***
Keesokan harinnya tanpa alasan yang jelas aku dipanggil oleh ketua tentara HAMAS. Kata temen-temen ada sesuatau yang ingin dibicarakan denganku.
Setelah merampungkan semua tugasku terlebih dahulu aku segera menemui ketua tentara HAMAS yang telah memanggilku. Ada apa gerangan seorang relawan biasa sepertiku bisa dpanggil oleh ketua tentara HAMAS .pertanyan yang muncul dalam hatiku.
“assalamu’alaykum…..”
“wa’alaykumussalam…”
Kulihat sekeliling ruangan kantor yang pertama ku masuki ini. Mataku melihat ternyata tidak hanya ada satu orang tetapi ada tiga orang. Ada dua orang pria paruh baya dan satu gadis bercadar.
“tafadhol, yaa akhy” seorang pria berseragam tentara HAMAS menyuruhku untuk duduk.
“ syukron..” jawabku.
“ perkenalkan akhy beliau ini adalah salah satu petinggi HAMAS yang menjadi target penyerangan Israel kemarin. Beliau ingin mengucapkan terima kasih pada antum. atas bantuan antumlah beliau dan putrinya bisa selamat dari penyerangan kemarin.
Ingatanku langsung tertuju pada dua orang yang telah aku selamatkan kemarin. Yah mungkin benar mereka adalah dua orang yang telah aku selamatkan kemarin. Kemarin aku memang terlalu bingung sehingga tidak terlau memperhatikan mereka.
“ sudah kewajiban saya untuk menolong anda, karena memang tugas saya disni untuk itu” jawabku.
Tiba- tiba pria paruh baya yang diperkenalkan sebagai salah satu petinggi HAMAS itu berbicara “ Begini akhy, ana kemarin secara tidak sengaja berbicara dengan sahabatku syafullah hamidz bin zubair ketika beliau menjengukku kemarin. Beliaulah yang memberitahukan bahwa antumlah yang telah menolongku dari serangan tentara Israel. Kemudian beliau memberitahukan tentang antum dengan segala sesuatunya. Yang sebenarnya ana tidak punya hak untuk medengarnya. Tetapi Di akhir pembicaraan kami ia mengagetkanku karena berakata” aku adalah sahabatmu sejak kecil dan aku juga belum pernah meminta apapun darimu. Tapi kali ini aku ingin minta sesuatu padamu yang akau harap kamu tidak menolaknya. Tolong nikahkan puterimu dengan pemuda Indonesia yang telah menolongmu kemarin. Dia adalah pemuda yang baik dan sangat cocok untuk puterimu” . tapi perkara ini adalah sesuatu yang menyangkut persaan dua orang manusia. Dan ini juga menyangkut masa depan dua orang manusia. jadi aku tidak bisa memutuskan sendiri.oleh karena itu aku ingin membicarakannya disni dihadapan kalian berdua untuk menaggapi perjodohan itu”.
Kemudian ia seperti mengkomando putrinnya untuk melakukan sesuatu. Dari gerakan itu putrinya seolah-olah tau apa yang harus dilakukannya. Sang gadis bercadar itupun kemudian melepas cadarnya.
Dan subhanallah ketiaka mataku betemu dengan mata sang gadis itu. Aku seolah-olah telah melihat seorang bidadari dari syurga ada dihadapan mataku. Kecantikan wajahnya mengalahkan para artis Indonesia. Dua bola Matanya yang berwarna biru begitu membuanya terlihat cantik.sungguh kecantikannya menyihir diriku.
Apakah ini hikmah yang coba Alloh tunjukkan kepadaku. Alloh seperti menegsakan betapa Maha AdilNya dalam mengatur kehidupan hambanya. Ia memang selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Ia zat yang tidak pernah tidur untuk mendengarkan keluhan ataupun doa dari hambaNya.
Dendan sedikit malu aku dan sedikit senyum aku jawab” insyaAlloh…”
Dan gadis itu pun menyambut dengan seutas senyuman. Seperti sebuah balasan untukku bahwa ia juga bersedia.


Yogyakarta, 12 Muharram 1430 H
05:32
Dengan persaan malu karena hanya persembahan buruk ini yang menjadi
ikhtiarku untuk meringankan beban saudara-saudaraku di palestine.
Aku marah terhadap kebiadapan israel tapi aku juga iri pada
saudara-saudarku di palestine kerena mereka masih
bisa merasakan bagaimana nikmatnya jihad dizaman yang seperti ini.