Pages

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

Rindu

Kutitipkan rinduku pada angin

Terbawa tiupan tak kasat mata

Buram mengayun gerakan

Tak jelas mau kemana

Tersesat tanpa mengenal arah

Buyar begitu saja!!!

Kutitipkan rinduku pada air

Mengalir jelas dari tinggi ke rendah

Sehilir terombang-ambing kerikil

Kandas di tepi karang tak tercegah

Kutitipkan rinduku pada api

Membara di dingin anugerah malam

Membakar kejam

Hanya tersisa arang

Habis terpanggang

Sesiora

Di balik kabut temeram malam

Beranda kasih meredup

Membungkam bahagia

Menjepit jasad tanpa rasa

Rasi bintang penceng di panggung langit

Berhias gelap tanpa koma

Saya manusia menebar makna

Menjalani kodrat tanpa jeda

Sekerat demi sekerat

Hingga peraduan akhir memulai sangkakala

Jumat, 22 Oktober 2010

Di bawah Ketiak Setan

Bar ngaji trus aku berubah jadi abu.
Bur! Keterak angin

Ning ngisor wit meneng aku. Setan datang dan bertanya
“lagi ngapain yank?’

Nemu botol. Tak gosok. Keluarlah jin berkaus oblong. Menawarkan berupa rupa permohonan.

Lagi termangu di pinggir jembatan. Berniat bunuh diri. Iblis datang dan berkata
“ rokok bang?”

Di bawah lampu remang remang di pojok jalan. Terkulum seringai senyuman setan.
Di bawah pohon jatuh. Gedebuk! Kepala menyala nyala!

Lilinku bergoyang. Aku hampir tertangkap!

Hap! Genderuwo menelanku bulat bulat

*Kolaborasi saya dan Handika berawal d
ari keisengan melalui sms

Selasa, 28 September 2010

Naga Merah

Naga merahku akhirnya kembali

Mendarat ke sangkar besarnya

Di belakang istana

Naga merahku mengaung keras

Tanda bahagia akan pertemuan

Atau tanda ketidak sabaran

Merobek jalanan malam

Meliuk terbang siang hari

Menukik ke atas saat badai dan hujan

Terbang memutar saat naga merah melihat sang pujaan hati

Memelan saat pohon merontokkan daunnya

Aku sungguh tak kuasa

memenjara keinginan lebih lama lagi

Segara mengajak naga merah

Terbang bebas lagi dengan naga merahku

Melipat jalanan

Membungkus awan

Menertawai dunia

Membelakangi lautan

Mempercundangi bayangan yang jauh di bawah

*Dedikasi untuk montor Blade merahku yang sudah 1 minggu kutinggal di Kediri.

Senin, 27 September 2010

Pangeran Kacamata

Pengeran kacamataku kau kemarin hadir dalam hidupku

Begitu dekat, tak seperti biasanya yang hanya bisa kupandangi dari kejauhan

Aku bisa memandangmu, walau aku masih sering tertunduk tak mampu

Merasakan kehadiranmu

Mendengar gelak tawak dan percakapanmu

Kini aku tersiksa lagi oleh kerinduan denganmu

Rindu saat sedih bersamamu

Rindu saat kau mau setia menemaniku dalam kesremawutan hidup

Rindu saat liburan kau menelponku,

Lama melepas kerinduan

Membiarkan terbang

Dan saat aku selalu tak bosan menceritakanmu ke ayah dan ibuku

“ Hidupku sekarang berbeda, Aku sekarang punya sahabat!”

Saat sekarang kita semua dibayang-bayangi kematian

Saat berpisah dengan begitu terasa begitu menyakitkan

Saat aku tau

Tak sepenuhnya kau yang menginginkan ini semua

Ketakutan dan kepengecutanku turut ikut campur

Pangeran kacamata

Sang kodok merindukamu

Kau sahabat sang kodok yang tak tergantikan

Tak terbelah

Tak terbagi

Kelak ketika sang kodok sudah menjadi abadi

Sang kodok tak akan lelah mencarimu

Setia menunggu dalam cipratan pertemuan surga

Selamanya

Selasa, 31 Agustus 2010

Ketakutan

Aku takut hewan berambut

Aku takut hantu

Aku takut sendirian di pojok rumah

Aku takut terlampau kaya

Aku takut terlampau miskin pula

Tapi yang paling aku takutkan adalah AZAB ALLAH

Sabtu, 28 Agustus 2010

Aku,Aku,Aku....Kamu,Kamu,Kamu....

Kau orang hebat

dan aku orang bejat

 

kau orang kaya

dan aku tak punya apa-apa

 

kau orang cerdas

dan aku orang naas

 

kau orang beken

dan aku tak pernah keren

 

kau orang rupawan

dan aku sama sekali tak tampan

---

kenapa aku ditakdirkan mengenalmu

kau sekarang menyiksaku

kau mengejewantah menjadi tokoh utamaku

diotakku

akhir-akhir ini hanya ada dirimu

memanggilku untuk diramu

menjadi cerita tak bermutu

kamu

kamu

kamu

dan hanya kamu

---

kau bukan sahabatku

dan aku tak terlalu mengenalmu

kau bahkan jarang menyapaku

aku lebih takut menyapamu

karena aku tau

kau membenciku

dan aku ilfeel denganmu

memandangmu

keminderan bagiku

aku seperti upik abu

dan kau anak sang ratu

aku

aku

aku

aku

dan aku

tak pernah sebending denganmu

---

aku mungkin lebih beruntung tidak mengenalmu

kau mengingatkanku

pada kawan lamaku

yang membenciku

yang meninggalkanku

yang berpisah denganku

dan itu membuatku

merasa takut semakin mengenalmu

---

 

 

 

 

 

 

 

Cinta Sederhana

Akhir-akhir ini 

Aku layaknya sebuah zombie

Merasakan hidupku berjalan begitu saja

Melakukan sekian banyak rutinitas

Tapi begitu saja

Seolah hatiku kosong

Serasa hambar

Bosan…

 

Lalu dalam perjalanan

Aku menemukan sebuah kata

Kata favoritku untuk hari ini

Dan sepuluh tahun lagi

Aku masih belum memberikan jaminan

Akan memaknainya

Hingga akhir hayatku

Biarlah menjadi rahasia

Satu kata itu adalah “Sederhana”

 

Aku belajar dari pelacur

Pelacur yang bahkan diabadikan dalam hadist

Menyejarah,

Bagaimana dia menyintai

dengan sangat sederhana

dia mencintai seekor anjing

Dengan begitu sederhana

Hanya ingin berbagi

Dengan iklhas

Lalu hasilnya?

Sesuatu yang istimewa

Surga…

Tak tanggung-tanggung

Hadiah terbesar

Bagi seorang ummat

Bagi sebuah cinta sederhana

Aku ingin seperti itu…

 

Begitulah aku ingin mencintai Allahku

Tuhanku…

Dengan cinta yang sederhana

Hanya cinta dalam

Hati dan akan tetap di hati

Bukan dengan kerasnya suaruku melafalkan namaNya

Bukan dengan teriakan

 

 

Begitulah aku ingin mencintai sahabatku

Hanya degan cinta sederhana

Bukan seringnya aku mengucapkan nama sahabatku

Bukan seberapa seringnya aku berjumpa dengan sahabatku

Namun, hanya ingin mencintai dengan sederhana

Agar aku tak kehilangan kacamata lagi

Aku tak ingin terjebak akan masa lalu

Memilukan…

Walau aku masih rindu

Itulah kesalahanku karena mencintaimu

Dengan berlebihan

Maafkan aku…

 

Sekarang adalah masa

Dimana aku harus membuktikkan semuanya

Mengaplikasikan cinta sederhanaku itu

Dan itu tak mudah

Sulit…

Maka aku harus belajar

Maka dalam doaku

Aku berharap diberi kesempatan

Untuk mencintai Allah

 layaknya mereka orang sholeh

Yang mencintai Allah

Hingga sampai suatu saat

Long distance itu berakhir

Dan aku berhak menemuiMu

Dan menuai semua cinta yang sudah kutanam

Dan bersemai

Amin…

 

Rabu, 28 Juli 2010

DERAP LANGKAH

Melangkah

Bersiap melangkah

Ditemani Jaket warna coklat, tas punggung dan kamera (oh sayangku…)

Lalu aku melangkah keluar rumah

Langkahku bukan langkah yang indah

Hanya langkah kesedihan

Langit sepertinya bersahabat

Mendung

tak terik

Jadi tak akan memberatkan langkahku

Lalu aku bertanya bukankah aku punya sahabat?

Iya pastinya,

Tapi mereka terlalu sibuk

Atau memang terlalu enggan untuk membantuku

Masa bodoh!?

            Aku melangkah lagi

mengosongkan kejengkelan di otak

            yang cuma akan memperkeruh hati

            Sekarang tujuannya adalah kantor polisi

            Aku ingin meminta mereka memberikan surat yang kubutuhkan

            Aku berharap polisi nanti tau diri

            Melayani dengan ikhlas

            Bukan meminta selembar kertas berwarna dari dompetku

            Gajimu tak cukup besarkah?

            Sepertinya perut buncitmu telah menjawabnya

Aku melangkah lagi

Langkahku kini akan terhenti di Bank

“CS yang cantik”

Hanya berani menggumam

CS itu menyapaku dengan keramahan

Yang selalu membuatku nyaman

Tapi sepertinya itu tuntutan pekerjaan meraka

Pasti pekerjaan yang melelahkan

Selesai, lalu aku melangkah lagi

Langkah yang lebh ringan kembali ke rumah

Sudah berapa langkah ya?

Aku iseng menghitungnya

Tapi tak usah kusebutkan

Aku sengaja membuat kalian penasaran

Dan melalukan serupa yang kulakukan

Tersenyum pulas…

 

Jumat, 28 Mei 2010

Ulang tahun

Med milad ya yang milad

Sudah menginjak umur 20 tahun?

Kepala dua?

Aku menghindari angka itu

Kenapa ya???
terlalu takut dikatakan tua saja

 

Bagiku tua mengingatkan pada beberapa hal

Kematian

Kebermanfaatan yang kulakukan

Kebahagian yang sudah ku lakukan untuk orang lain

 

Sayangnya semua NOL BESAR

Yang terjadi adalah

Masih saja merasa tak pernah siap mati sewaktu-waktu

Belum mampu memberikan manfaat sama sekali

Masih sering menyakiti orang lain(Kalian?)…

 

Umurkan tak menentukan kedewasaan seseorang

Jadi di umurku yang 19 tahun

aku sudah merasa amat sangat dewasa

(NARSIS.com)

Wah jadi lupa diri

Notes ini padahal kubuat untuk yang lagi ulang tahun

Niatnya sih untuk membantu kalian merenung

Tapi malah ajang curahatku….

 

Menikah

Punya pekerjaan

Punya anak

Punya cucu

Semoga secepat waktu berputar ya…

 

INTINYA MED MILAD SAJA

SEMOGA BAROKAH YA SISA UMURMU…

 

Rabu, 03 Februari 2010

I believe


If you were to be hurt

And about to stumble

I’ll be right beside you

And support you by the shoulder

This earth revolves

Carrying all the hopes in the world

Now is the time to open the door to be future

Sorrows and troubles

Will become joy some day

I believe in the future, I believe

If someone around you

Starts to cry

You will take his hand

And walk alongside him, won’t you?

I want to wrap the earth

With all the kindness in the world

If I can be honest with may feelings

Yearning and love

Will burst and sparkle in the vast sky

I believe in the future, I believe

Jumat, 04 Desember 2009

Kutunggu yang tak pasti


Masih menunggu di stasiun
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Lama
Detik berganti menit
Menit pun berlalu
Sekarang jam yang menggantikan menit
Yang kutunggu tak kunjung datang
Lelah
Kecewa
Lalu apa?
Apakah aku akan menyalahkan keadaan?
Atau menyalahkan diri sendiri?
Ingin rasanya bangkit
Menghubunginya
Ah tidak…terlalu gengsi untukku
Aku ingin dia yang menghubungiku
Aku hanya ingin mengujinya
Seberapa dia membutuhkan aku
Aku hanya ingin tau
Seberapa dia mengaharapkan aku
Aku hanya berharap
Dia datang membujukku pulang
Dia datang untuk mengatakan bahwa
Apa yang kupikirkan salah
Biarlah aku menunggu sebentar lagi…
Masih terlalu besar dihatiku
Ini sepertinya kereta terakhir
Di malam ini
Aku melihat
Ratusan orang mulai keluar gerbong
Satu, dua, tiga….
Seratus…..
Seratus satu…
Orang terkhir pun keluar
Ternyata juga bukan kamu
Sekarang memang aku harus bangkit
Bukan untuk menghubungimu
Tapi untuk pergi
Melupakanmu
Memulai sesuatu yang baru
Bersama orang lain
Yang mungkin akan jauh lebih baik darimu
Meniggalkanmu sebagai kenangan
Terimakasih untuk masa lalu darimu
Indah…
Walau sekarang itu hanya masa lalu

Rabu, 02 Desember 2009

JALAN PEJUANG PENA-PUISI


Ketika kakiku tak mampu lagi melangkah
Mataku tak sanggup lagi melihat
Telingaku tak mungkin lagi mendengar
Lisanku tak dapat lagi mendengar

Tapi, asalkan tanganku bisa digerakkan
Akan ku hasilkan karya yang agung
Akan Ku bangun Peradaban Khilafah
Akan Ku lahirkan pejuang-pejunag tangguh

Walau hanya bersenjata pena
Walau hanya bermodal tinta dan kertas

Karena aku yakin telah terbangun
Sebuah rumah di surga
Dengan kokoh dan indah
Yang menunggu untuk dihuni

Karena ini jalan pejuang pena
Yang panjang dan berliku

Antara aku dan NYA


Ku lupa pijakan

Ku punya angan yang gagah

Yang seolah melambung tanpa batas

MenantangNYA,

MelawanNYA,

Hampir kuanggap tak ada yang mampu membendung

Membuatku merasa menjadi RAJA, KUAT, KOKOH

Tapi, tubuhku layu

Menyadari betapa semuanya itu musatahil

Tapi, luluh hatiku

Menyadari itu hanya kepalsuan

Karena sebenarnya semua itu milikNYA

Hanya NYA yang mampu melakukan itu semua

NYA dzat yang ESA

NYA dzat yang AR-RAHMAN

NYA dzat yang AR-RAHIM

Selasa, 6:28 050509

Dikamar budhe, ketika hati dirundung

kedzaliman terhadapNYA

INI BERNAMA CINTA


berawal dari setahun yang lalu
kecelakaan kecil membuat perubahan besar
dalam hidup kita berdua
perubahan itu bernama PERNIKAHAN

aku menjadi mencintaimu,kamu pun demikian
kamu menjadi mencintaiku, aku pun menganggapmu bidadariku
senyum mu...
kerlingan matamu...
lesung pipimu...
semua berubah menjadi firdaus dunia bagiku

kamu selalu menyediakan makan pagi untukku
walau aku tau sebenarnya kamu baru belajar untuk itu
kamu selalu mencuci pakaianku hingga besih
walau aku tau sebetulnya kamu tidak terbiasa dengan itu

1 tahun setelah itu...
kehidupan kita semakin meriah oleh adanya
pangeran kecil kita "Kholid"

kerja kita menjadi berlipat-lipat
kita tak terlalu paham dengan siang atau malam
yang kita tau kalau sang bayi menangis
kita harus segera menghiburnya

suatu ketika aku lihat dirimu menangis
ku ajukan pertanyaan " Kenapa sayang?"
kamupun menjawab dengan sesenggukan
"aku capek yah, kholid gak mau berhenti menangis"
segera tanpa perlu kau minta
aku menggantikanmu menggendong kholid
setelah kholid tidur
aku beranjak mendekatimu
ku pijat punggungmu
bukan dengan tenaga tapi dengan CINTA

sekarang setelah 20 tahu berlalu
kelauarga kita bagai kesebelasan sepak bola
aku, kamu, kholid, asma, furqon, ahmad, fatimah, asyiah,
hasan, husein, umar
hari-hari terasa selalu ada keistimewaan

kita selalu dituntu untuk senantiasa belajar
belajar memenuhi 9 kebutuhan yang berbeda
mengabulkan 9 keinginan berbeda
memahami 9 karakater berbeda
dan kita terus dituntut belajar lagi, lagi dan lagi

bukan berarti kita pasangan yang tanpa masalah
kamu pernah marah karena cemburu
aku pun pernah merasakannya
hingga terkadang luka-luka kecil itu ada dan membekas
tapi selalu tak lebih dari 3 hari
kita mampu merubah gelap menjadi terang
semu menjadi nyata
hampa menjadi ceria
diam menjadi bahagia
cemberut menjadi senyum

hah semoga kita akan selalu diikat oleh do'a kita
kepada Rabbi kita yang punya kuasa akan segala CINTA

yah, sebuah doa yang akan selalu kita panjatkan
" Ya Rabb, satukan kami sekeluarga 10 tahun lagi, 100tahun lagi
100 tahun lagi, hingga akhir surga itu menjadi rumah kami"

MENCARI SOSOK BAYANGAN


aku kehilangan sosoknya
sosok itu telah berubah menjadi sebuah bayangan
bayangan nan jauh dari pelupuk mataku

bayangan yang ketika kudekati
bayangan itu akan menjauh
ketika aku berlari mendakatinya
bayangan itupun berlari menjauihiku

ketika akhirnya aku menangis
karena putus asa, kelelahan dan kecewa
bayangan itu bak karang yang terkena ombak
tak bergeming pada posisinya

aku sudah tak tahan lagi
aku pergi,
pergi meninggalkannya
berusaha menahan hataman perih
namun aku merasa sepertinya
ini yang terbaik
walau aku harus mengakui
aku rindu belaian tangannya ketika mengusak rambutku
aku rindu untuk bersandar di pundaknya ketika masalah ada dalam hidupku
aku rindu perhatiannya
aku rindu...rindu...dan rindu

Kesatria Hijau


Kesatria Hijau
Ia membawa Panji Lailahailallah
Yang iblispun takkan sanggup mengambilnya
Sang mentari
San rembulan
Sang bintang
Seraya hanya memujinya
Awan akan berubah cerah
Ombak akan berhenti berdesir
Cahaya bagai kilat saat sang kesatria mengayunkan panjinya
Menyambar, menghujam , merangsak tak terkendali
300 pembawanya layaknya 30.000 pasukan
Pengorbanan menjadi kewajibannya
Syahid menjadi haknya
Surga menjadi miliknya
Dan Sang Khalik menjadi kekasihnya


Pagi, 6.33 WIB 04/05/09
Disela-sela menunggu kuliah
Sosiologi Pertanian 10.304 (Sosek)

Persemabahan untuk Murabbi


Murabbi begitu besar baktimu…
Alloh menjadi kekasihmu yang mengisi relung jiwamu
Raslullah selalu menjadi tuntunan dalam setiap tindakmu
Islam telah menjadi ruhmu
Dakwah telah menjadi semangatmu
Al Qur’an dan Al Hadiat telah menjadi penerang hatimu

Keringat, darah dan airmata telah menjadi bukti
Atas segala pengorbananmu
Walau kadang lelah mengampiri ragamu
Walau kadang enggan menyapa jiwamu
Namun engaku tak pernah takluk

Dengan sabar engaku mengajari kami
Mengajari…
Tentang keEsanNya
Tentang Ayat cintaNya
Tentang sang panutan
Tentang hidup ini
Dan tentang banyak hal
Yang tak pernah kukenal sebelumnya


Tawa,susah,senang, kecawa
Semua telah bercampur menjadi hiasan
Dalam satiap perjumpaan kita

Takkan cukup terima kasihku
Untuk membalas semua yang telah engakau berikan

Semoga kelak…
Aku, engkau, dan akhi fillah
Dipertemukan kembali
Di syurganya dalam pertemuan agung
Disaksikan oleh para malaikat
Dan Sang Murrabi sejati kita
Memandang dengan seutas senyum kebanggaan

28 Januari 2009
12:30
Saat diri ini merindukan liqo’

musim digugat

Padi bertanya pada musim
Kenapa musim mendzaliminya
Kenapa musim mempermainkannya
Hingga padi tumbuh tak layak
Hingga padi hanya menjadi beban bagi petani
Sang musim menjawab pertanyaan padi
Bukan, bukan mauku
Tapi aku diperintahkan Alloh
Alloh menyuruhku untuk memeberi pelajaran pada manusia
Agar mereka ingat tugas mereka
untuk memakmurkan Bumi Dan seisinya
Padi, Kau tau bagaimana bringasnya mereka
Demi hawa nafsu
Demi kepentingan pribadi
Demi selembar uang
Mereka menghanguskan hutan
Mereka terus mengotori udara
Mereka…mereka…mereka…
Sudah begitu fasik
Sudah bukan lagi khalifah bumi ini
Manusia sudah tak lebih dari budak nafsu, syahwat birahi saja
Itulah kenapa sekarang giliranku untuk mempermainkan mereka
Agar mereka tak lalai pada nikmat
7:15, Yogyakarta